Berpikir Cinta Membuat Waras Tapi Gila


Selalu saja idealisme menanggalkan manusia yang terkadang rapuh tersebut.  Namun dengan berbagai suara yang dirasakan oleh batin sendiri, apakah tidak pernah ada intervensi dari manusia dalam berpikir? Selalu saja ambigu, apakah mungkin perasaan batin mendahuli pikiran, ataukah sebaliknya, pikiran yang mempengaruhi suara batin?

Tidak begitu dapat tergambar jelas, tentang sesuatu yang manusia ingini sebelumnya, apakah memang dari banyak keinginan tersebut hanyalah kemenarikan energi yang ilusif? Terkadang hidup memang terbaui, dan tentang cinta dari mana datangnya, mungkinkah dari mata turun ke hati yang sudah banyak digembor-gemborkan orang mendefinisikan cinta?

Seperti tidak tergambar jelas dalam angan manusia. Mobil-mobil berlarian seperti tidak akan mencapai tujuan. Tetapi dengan makna dalam berbagai tujuan itu, apakah memang ia "cinta" layak dituju oleh setiap manusia sebagai titik tujuannya?

Sore yang dirasa begitu nikmat, mungkin dengan kata ideal yang benar kita idealkan itu, menyandarkan diri pada bentuk ideal haruslah benar-benar menjadi sandaran dalam bersikap, untuk menanggapi berbagai yang "ideal" tersebut---- berdamai didalam imajinasi sebagai manusia itu sendiri memandang hidup dan narasi absurd cinta mereka.


"Biarlah ini menjadi tanda, dalam kemalangan, memang yang terkadang menjadi siksa sebelum manusia masuk neraka paling jahanam disana. Ia harus menerima bahwa; ia selalu disiksa oleh pikirannya sendiri dalam menjadi manusia, dan celakanya dasar dari cinta tersebut, rasanya hanya orang-orang yang mendramatisir kisahlah yang membuat cinta itu dari mata lalu turun ke hari, padahal cinta dari pikiran, hati hanyalah dukungan bagi kendali pikiran".

Tentang mata memang tidak pernah bohong, ia hanyalah obyek pengelihatan yang tidak pernah selsai melihat keindahan termasuk bagian dari obyek cinta itu sendiri. Tetapi mungkinkah apa yang dinamakan neraka itu ada didalam realitasnya sendiri bahwa; neraka adalah cara berpikirnya yang menyiksa hidupnya? Dimana pikiran itu tidak pernah berhenti dan membuat kegaduhan jiwa yang tidak mereka ingini? Termasuk mungkin kata "cinta" dalam hidup manusia?

Malam yang terkadang sangat melelahkan, mengapa dengan ide-ide kebaruan dalam hening tanpa pikiran itu terus saja hilang ketika badan manusia mulai lelah? Namun dalam kelelahan itu, mungkinkah hanya akan menghambat bagai mana daya pikir itu berpikir? Menjadi terlalu berpikir, apakah manusia dapat disebut waras pada akhirnya, yang sebenarnya mereka tersiksa oleh jalan pikirannya sendiri termasuk memandang cinta yang sebenarnya lahir dari pikiran?

"Rasanya dalam bentuk apapun, cinta menyedot energi didalamnya bukan saja butuh sesuatu yang harus diumpan balik. Namun juga kerelaan dalam memberi sesuatu, karena cinta sendiri apapun bentuknya yakni; untuk sebuah kerelaan! Sama halnya menulis, proses yang panjang, menggali ide, mengetik buah-buah ide, mengedit tulisan, belum ketika mereka harus mencetak sendiri tulisannya dengan biaya sendiri, dengan kata "cinta" saja memang  tidak mudah. Tetapi kepuasan karena suduh mewujudkan cinta itu sendiri dengan rasa bangga dan kebahagiaan, tidak laku sebagai tulisan yang bernilai pun tidak apa-apa. Mungkin sejatinya cinta adalah mewujudkan apa yang menjadi kehendak untuk dicintainya tersebut, bahan dari umpan baliknya sendiri".  

Memang tidak ada hari yang tidak dalam pikiran manusia begitupun dengan hasilnya menjalani hari-hari yang dijalaninya sebagai wujud cintanya dalam kehidupan ini. Semua hari dalam waktunya adalah pikiran-pikiran itu bagi manusia. Mungkin karena manusia mempunyai pikiran, dan ia harus terus berpikir apa yang perlu dipikir dalam hidupnya untuk dapat terujud dalam kenyataan dari kehidupannya? Harus-kah manusia itu selalu berpikir dan berpikir diwaktu kehidupannya? Dan bagimana meletakan pikiran itu selain tertidur menghentikannya? Rasanya tidur adalah meditasi yang dilakukan manusia paling efektif untuk mencari ketenangan dalam hidup manusia itu sendiri; mencari ketenangannya.

Menjadi mausia "Prio" memang sedikit ingin bertanya lagi pada dirinya sendiri, mengapa selalu saja ada hari dimana; jalan pikirannya sama sekali tidak membuat ia nyaman menjalani harinya? Laptop, buku, dan air putih, ditambah buah Salak yang ada didepannya, apakah itu dapat menenggelamkan pikirannya untuk lebih bersantai malam ini dengan saraf-saraf otaknya yang tegang untuk dijadikan sebuah karya untuk kehidupannya?

Pelarian sebagai bentuk pelipur diri memang terkesan atau dikesankan menjadi penting bagi setiap manusia. Berbagai pelarian itu mungkinkah benar bahwa: "Prio lari untuk selalu memperbaiki diri atau justru malah semakin memprosokan diri pada jurang lubang penderitaan yang terdalam"?

Dan tentang berbagai jenis pelarian itu, apakah ada pelarian yang benar-benar membangun hidup manusia? Ketika patah, ia bukan harus tumbuh, tetapi harus terus tersirami oleh air supaya ranting-ranting dalam bangunan pohon yang kekeringan ini dapat berdaun kembali. Gambarannya; "Manusia adalah pohon bagi dirinya sendiri yang perlu tumbuh sehat dan waras menanggapi semua bentuk ranting dalam pikirannya yang semakin hari semakin tumbuh cabang-cabang itu untuk menemukan ruangnya" .

Memang Prio sendiri juga masih bingung dalam menjadi manusia, mengapa ia selalu dihadapkan pada kondisi hidup yang sangat paradoks sebagai manusia? Terkadang didalam lamunannya sendiri, ia seperti tengah menjadi gila, ia akan selalu gila memandang hidupnya sendiri. Oleh karena itu hanya orang yang sama-sama gila yang mau berteman dengan orang gila seperti Prio dalam memandang hidup yang sangat kontradiktif.

Untuk itu mendapatkan teman yang gila saja susah bagi Prio, apa lagi mendapat pacar "wanita" yang sama "gila" sehingga  dapat dipacari bahkan dinikahi. Mungkinkah orang yang "waras" tapi gila akan bertemu dengan karakter orang demikian? Memandang hidupnya yang gila dalam kewarasaanya tersebut?

Rokok yang ingin dihisap oleh Prio, atau dengan Bir disana yang membuat sarafnya agak sedikit terbang bersama lamunannya, apakah itu merupakan pelarian yang baik untuk dijalankan menelanjangi hari-hari? Karena untuk membeli Bir atau Rokok sendiri begitu mahal kini, dimana untuk dapat membeli semua itu, upah satu hari bekerja harus habis tidak tersisa, bahkan untuk memulihkan tenaga dengan makananya yang harus mereka beli merekapun tidak punya nilai uang lebih dari kerjanya tersebut.

Tidak ada kedamaian seperti menikmati tidur pulas, namun bagimana ketika tidur itu sudah tidak lagi dapat dinikmati karena bayang-bayang realitas sendiri menghantuinya? Kekhawatiran dan kegelisahan pada sesuatu yang belum terjadi dan hanya ada ditatar pikiran, untuk menjadi waras memang tidak mudah, menjadi gila apalagi, justru semakin tidak mudah karena lingkungan sosial akan mengisolasinya.

Sesulit apapun Prio menjadi dirinya sendiri, ketikan-ketikan suara hatinya yang harus terketik pada akhirnya menjadi bentuk terapi, apakah ini derita bagi orang-orang yang berada dalam kesendirian dan cenderung menemukan dirinya dengan menulis? Ungkapan yang abstrak, mental yang begitu saja dapat berubah-ubah, terkdang ia dapat berbahagia, tetapi kekalutan pikirannya, yang justru dirinya terperosok pada lubang pikiran yang membuat derita sebagai dirinya.

Prio menyadari, mendambakan suatu kesempurnaan dalam hidup memang konyol, bau dupa saja yang sedikit dapat membuat terapi, bila dibakar, ia bukan saja akan membuat dada sesak bila terus dihirup, tetapi hidung untuk menghirup itu, rasanya tinggal setengah, karena setengahnya  dari hidung adalah asap yang terbakar dengan tajam menusuk paru-paru yang bersih tanpa asap rokok. Sebab merokok diabad ke-21 bukan masalah kesehatan yang diperkaran Prio, hanya saja harga yang mahal membuat rokok haruslah menjadi barang sampah yang tidak patut untuk dibeli.

Mata yang masih sayup dirasakan Prio pagi ini, terus saja ia menulis untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik dan semakin baik lagi untuk bereaksi terhadap hidupnya. Apakah benar seorang penulis itu rawan dengan menidap gangguan mental? Ataukah mungkin gangguan mental itu sudah di-idap penulis sebelum ia menulis? Dan gangguan mental itu menjadi ringan bebannya ketika ia mulai menulis?

Tetapi kecenderungan lari terhadap menulis, apakah itu juga suatu kehendak alamiah manusia untuk mengobati rasa ketidakwarasaanya sendiri dalam kejiwaannya? Mungkinkah kelainan pada jiwa yang membuat gila sendiri dialami semua manusia yang katanya waras itu dalam aktivitas sehari-hari mereka?

Haruskah hidup semua manusia digantungkan dengan keberadaan yang melampaui dirinya untuk berpasrah bahwa; "hidup dalam apapun kondisinya harus tetap dinikmati dan dijalani"? Apakah dengan konsep kenikmatan yang tergambar jelas dirasakan orang lain, mungkinkah itu benar-benar idealnya kebahagiaan terhadap diri kita sendiri? Prio terus bertanya dalam sesuguhan ketikannya di pagi yang menyebalkan ini, hari libur yang justru tidak bersahabat,  ia "Prio" ingin terus melajutkan narasi teks novelnya yang banyak ia kisahkan dari kontradiksi hidup dirinya sendiri.

Musik instrumental yang harus dimainkan, pagi buta yang cerah Prio sudah didepan laptopnya, karena tiada hiburan lagi, ia akan kemana saat pagi? Dengan siapa? aAakah ada yang ingin berteman dengannya? Mengapa wanita itu, ia selalu dapat tersenyum menyembunyikan kegundahan hati dan hidupnnya? Walapun hanya diimajinasinya saja, mungkin benar keindahan wanita adalah seni dari mahakarya tuhan, dimana mereka tidak ada habis-habisnya untuk terus ditafsirkan.

Wanita yang pernah bertanya kepada Prio yakni Rinasih, suka membaca? Oh, suka penulis juga? Orang seperti kamu itu harusnya suka dengan film, Prio hanya menjawab singkat: "ia hanya suka dengan film spiritualis dan filosofis, rasanya hanya kebijaksanaan dan kerohaniaan yang dapat mengubah hidup manusia, mendefinisikan hiburan pun tetap harus ada nilainya.

Dan semua pertanyan "wanita" yang dilontarkan pada pria, apakah sebuah basa-basi yang tidak terhindarkan dan tidak usah ditangapi secara serius untuk lebih mengenal orang lain? Dan tentang sisi gelap, haruslah ditampilkan sebagai sisi gelap yang berengsek, hidup ini memang brengsek dan kita dipaksa untuk tetap menikmatinya! Brengsek! Apakah ini yang dinamakan hidup waras tapi gila? Sekali lagi, Brengsek sekali hidup ini?

Nyatanya dalam cinta yang harus termanifestasi dalam kehidupan ini, sebrengsek-brengseknya cinta tetap saja ia adalah sebuah makna yang harus dikerjar karena kehendak alamiah manusia untuk melanjtkan hidup menemukan cintanya. Namun dengan cinta sesama manusia, biarlah cinta terhadap pengetahuan yang diimplementasikan dalam bentuk karya tulisan Prio sendiri menjadi wujud cinta tersebut.

Cinta terhadap laki-laki dan perempuan akhirnya terwujudkan dalam kehadiaran anak manusia akan seperti apa kisah dari perwujudan cinta ini untuk prio biarlah menjadi misteri. Terkadang cinta antara lawan jenis sendiri hanyalah gairah insting dari kehendak untuk berkembang biak manusia meneruskan spesies. Cinta terhadap wanita memanglah wajar, dan itu tidak pernah salah walapun tidak terungkapkan dengan baik.

Rinasih yang tetap mendingin apalagi dengan prio, ia hanyalah seorang yang canggung ketika berhadapan dengan orang-orang yang masih terlihat asing oleh dirinya. Karena definisi keasingan bagi manusia yakni; walaupun setiap hari melihat bahkan berada ditempat yang sama dengan orang lain, tidak ada hasrat untuk kenal lebih dekat, bagi prio semua orang disekitarnya merupakan orang asing. Dan yang lebih terasing sendiri bagi prio, ia bukanlah orang yang dapat mendahuli percakapan, karena itu, berada didalam lingkungan yang cuek, ia akan terus menjadi orang yang terasing.

Dan kata cinta bagi dirinya pun tetap pada keasingan itu, bahkan rinasih sebagai wanita yang prio kagumi, iapun tetap orang asing yang kebetulan dihasrati secara instingtif menjadi parter dalam menjadi manusia yang berkembang biak untuk menunaikan hasrat sebagai manusia yang menginginkan melestarikan spesiesnya.

Kata cinta mungkin seperti; "agama yang candu bagi masyarakat ungkapan Karl Marx". Mungkin cinta itu memang harus terkenali, tidak mengambil jarak untuk meruntuhkan tembok social mereka masing-masing dalam menyambut cinta. Kemisteriusan dari Rinasih tentang bagaimana ia membaca cinta, membaca lawan jenis dan membaca orang-orang yang sebelumnya ia sudah bersimpati kepadanya.

Mungkin sesuatu itu yang prio terus bertanya pada dirinya sendiri mencoba untuk terus mengamati rinasih, meskipun cinta terkadang sulit ditebak akan siapa yang pantas mendapatkannya, rinasih mungkin adalah orang yang selektif itu. Sebab banyak juga orang yang tentu secara insting menginginkannya sebagai partner dalam berkembang biak. Prio rasa dirinya yang tidak berani untuk menggoda rinasih, mengajaknya hanya sebatas mengobrol santai, tetapi rinasih juga bukan seseorang yang polos tanpa pengetahuan secara instingtif mana pria yang benar-benar layak untuk pendamping hidupnya.

Rinasih adalah orang yang setia, ketika ia sudah mencintai seseorang, mungkin titik dari cintanya itu adalah kesetiaanya terhadap cintanya tersebut. Maka tidak heran jika dirinya menjadi pemikir cinta, supaya dengan kekehawatiran yang melakat pada dirinya tersebut tidak menjadi kenyataan pahit yang harus berulang kembali diasakan oleh hidupnya.

Tetapi secara sensitifitas dan insting sebagai manusia, wanita lebih unggul dari pria. Rinasih mempunyai keunggulan didalam instingnya membaca pria. Ia akan tahu mana laki-laki yang benar baik untuk dirinya, meskipun ia harus berpikir bagaimana ketika ada pria yang menginginkannya, ia harus secara elegent dalam menolaknya. Tentu prio juga pernah ditolak secara elegant, menonton film di bisokop mungkin terlalu murah untuk saling mengenal, namun sudahlah, kepercayaan kepada orang yang baru beberapa hari kenal memang demikain, sangat mahal bagi normatifnya orang Indonesia.

Karena orang Indonesia sendiri pada budaya romansanya, seperti ada kesangsian jika memang mereka tidak ada kemenarikan sebelumnya. Mungkin prio memang tidak menarik untuk rinasih, tetapi ketidakmenarikan itu hanya karena rinasih belum mengenal siapa sebenarnya prio, dan terburu-buru dalam sangsi menilai orang dari luar, dan enggan mengenal diri orang lain lebih dalam. Namun insting seperti tidak bohong, Rinasih bagi prio memang orang yang menarik.

Sebaliknya prio bagi rinasih apakah bisa menjadi menarik? Tentu, prio dengan kepribadiaannya yang unik tersebut, pria pendiam yang tidak banyak bertingkah, sesekali membuat rinasih gemes memandang kepribadiaanya yang absurd, menarik tidak menarik tidak ada soal, prio hanya ingin menjadi dirinya sendiri, meskipun kelekatan kekaguman kepada rinasih terus bergema.

Prio tahu rinasih sendiri adalah seoraang pemarah dalam keceriaannya, pandai memaafkan atau tidak prio tidak memperdulikan itu. Jika memang ia orang yang murni dalam memandang orang lain, pasti tidak perlu seseorang yang ingin hidup bersamanya menunjukan terlalu berlebihan cinta atau perasaan padanya. Tetap akan menjadi kesia-siaan belaka ketika; apa artinya manusia berjuang mendapatkan kata "iya" dari lawan jenis untuk hidup bersama tetapi sebelumnya lawan jenis itu memang tidak punya ketertarikan sedikitpun.

Biarlah ketertarikan itu muncul terlebih dahulu ketika memandang manusia dengan sisi orisinalitasnya. Prio memang ingin menjadi orisisnil memandang cinta. Perkara rinasih juga tertarik dengan konsep kepribadian prio, suatu saat nanti ketika saatnya ada sesuatu, pasti dua hati ketertarikan tersebut akan bertemu dijalannya. Menebak memang sulit, berjuang tanpa restupun sama tidak ada artinya. Narasi cinta, wanita dan persamaan candu seperti agama dalam romansa, ini menjadi bahan cerita, akan terus menjadi cerita yang layak sebagai bahan pemikiran kita semua. Karena berpikir cinta membuat manusia menjadi waras tetapi terkadang gila.


Toto Priyono
Read More

Mencoba Berlatih Menjadi Miskin


Aliran stoicism mengajariku dalam banyak hal, dan yang terpenting, aliran ini mengajarkan untuk bersyukur dan sekaligus membuat menjadi tahan banting.

Salah satu filsuf yang cukup terkenal dari aliran ini adalah Seneca, seneca memiliki cara unik untuk melatih mental yang tahan banting, yaitu mencoba merasakan hidup miskin.

Caranya bagaimana? untuk berlatih menjadi miskin sebenarnya sesimpel menjadi orang miskin selama beberapa hari, kira-kira 4-7 hari. sisihkan waktu segitu atau mungkin lebih untuk kamu berperilaku seperti orang miskin.

Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan;

1. Pakai baju yang paling jelek yang kamu punya.

2. Batasi pengeluaran.

3. Tinggal diluar rumah.

4. Simpan barang-barang mewah.

5. Coba hal lain yang orang miskin lakukan.

Ketika itu, saat sedang di dalam proses, kamu harus tanya kepada dirimu sendiri seperti ini, "apakah ini kondisi yang aku takutkan?".

Di hari pertama atau mungkin sampai hari kedua pastinya ini akan menjadi ujian yang teramat berat untukmu, namun apabila seluruh rangkaiannya sudah selesai, bisa dijamin saat kamu kembali kepada kebiasaan-kebiasaan yang kamu lakukan, kamu akan banyak menyadari dan mensyukuri segala hal yang selama ini kamu abaikan. seperti misal punya rumah, bisa makan enak, punya laptop, punya handphone. Sementara itu banyak orang di luar sana yang menjalani hidup sama persis seperti yang telah kamu coba rasakan beberapa hari kemarin.

Setelah mencoba hidup miskin, saat mencoba makan di restoran yang harganya lebih dari 20 ribu, makanan itu pasti akan menjadi makanan terenak yang pernah kamu rasakan. 

dan dari sini, yang harus kamu sadari adalah kebahagiaan, kenikmatan, serta perasaan senang ternyata bukan muncul dari mahal atau enaknya suatu makanan, bukan dari itu. tetapi dari mindset, dan dari bagaimana kamu mensyukuri hal yang telah kamu punya.

Dan sebenarnya kamu tidak harus mempraktekan seluruh cara yang sudah disebutkan tadi, berlatih menjadi miskin sebenarnya dapat dilakukan cuma dengan salah satu cara diatas saja. supaya kamu sadar bahwa apa yang kamu miliki sekarang merupakan kemewahan, itu yang penting.

Ini supaya kamu dapat bersyukur, dan dari sana, saat kamu sudah bisa survive kemiskinan, mulai dari merasakan tidak punya rumah, tidak bisa makan enak, dan lain sebagainya. yang mungkin bisa dikatakan hal terburuk yang pernah terjadi terhadapmu.

Ketika kamu sudah survive dan mulai bersyukur, maka semua keluhan yang mungkin secara tidak sadar kamu lontarkan akan jadi tidak berarti lagi.

Segala ketakutan yang kita alami saat mengambil resiko untuk membuat keputusan besar akan menjadi tidak berarti juga. karena kamu sudah bisa mensyukuri hal-hal sepele yang pernah kamu alami.

If you would not have a man flinch when the crisis comes, train him before it comes-seneca

Berlatihlah untuk menjadi tangguh dan memiliki mental tahan banting, sekaligus belajarlah untuk lebih banyak bersyukur, dan tidak takut apapun yang terjadi pada hidup kita sekarang.


Dimas Almasih
Read More

Memahami Derita Jadi Orang Jelek


"Dengan bertambahnya pengetahuanku, aku semakin sadar bahwa aku adalah mahluk yang terbuang. Aku memelihara harapan, memang, tapi harapan itu sirna manakala aku menatap pantulan ragaku di permukaan air, atau melihat bayang-bayangku di bawah sinar rembulan, sungguhpun yang ada hanyalah gambaran buram dan temaram."

(Frankenstein, Marry Shelley: 179)

Di dunia ini harus kita akui, kehidupan tidak selalu memberikan keadilan dalam versi makhluk di dalamnya. Sebagaimana diciptakan orang-orang dengan fisik sempurna, maka diciptakan pula mahluk lawan dari kesempurnaan itu sendiri.


Akal yang bijak tentu menolak pernyataan ini, karena menurutnya baik dan buruknya seseorang tidak dapat dinilai dari wajah. Tidak salah berpikir demikian, tetapi jangan tutup mata bahwa penilaian terhadap fisik masih banyak terjadi.

Dua ratus tahun yang lalu seorang perempuan asal London pernah menulis kisah yang mewakili penderitaan mahluk terjelek di dunia.

Marry Shelley dalam karya fenomenalnya berjudul Frankeinsten: The Modern Prometheus (1818) telah melahirkan sosok monster mengerikan yang dikenang oleh semua orang. Monster yang tak bernama ini bahkan lebih terkenal dibandingkan nama sang penciptanya, Victor Frankeinsten.

Novel ini bercerita tentang ilmuwan Swiss yang berambisi menciptakan manusia buatannya sendiri. Dengan menyatukan potongan-potongan tubuh mayat, kemudian ia menghidupkan makhluk itu. Nahasnya, ia malah menciptakan sosok monster berwajah menakutkan, yang ia sendiri bahkan tak tahan untuk melihatnya.

Monster malang ini kemudian mengembara, mempelajari dunia manusia, memahami bahasa, dan cinta. Satu-satunya hal yang ingin ia miliki adalah diterima keberadaannya dalam lingkungan manusia.

Sayangnya, justru penolakan, hinaan, dan penderitaanlah yang selalu ia dapatkan. Oleh sebab itu, ia pun merencanakan pembalasan dendam pada sang penciptanya.

"Benarkah manusia berkuasa, berbudi, dan hebat, sekaligus sangat bengis dan keji? Terkadang manusia berbuat dzalim, tetapi di lain waktu mereka bersikap sangat mulia dan luhur." (Hal. 162)

Memahami 'iblis' sapaan yang sering diujarkan oleh Victor kepada monster ciptaannya sungguh sangat menyiksa pembacanya. Di satu sisi kita akan membenci sosok ini karena melakukan pembunuhan keji pada keluarga sang penciptanya, di sisi lain rasa sedih, iba, dan sakit pun muncul sewaktu ia membagikan pengalaman hidupnya di tengah manusia.

Jadi orang jelek pasti akan menderita. Premis yang dibawa oleh penulis begitu sederhana dan akan selalu relevan sampai kapanpun. Tampaknya Marry masih terlalu halus mewakilkan sosok jelek sebagai seorang monster.

Sebetulnya dua ratus tahun yang lalu, ia sudah memahami problematika yang akan selalu ada pada diri manusia, yaitu mengenai rasa tidak aman (insecure). Manusia akan selalu takut berhadapan dengan kelemahan dan kekurangannya di hadapan orang lain.

Insecurity terjadi saat seseorang merasa malu, tidak mampu, dan penuh kekurangan. Semakin seseorang merasa insecure, maka ia cenderung akan hidup dalam ketakutan. 

Salah satu alasan seseorang merasa tidak aman yaitu karena kurangnya percaya diri akibat pengalaman buruk di masa lalu. Rasa tidak aman ini bila dibiarkan akan membuat seseorang menjadi iri dan cemburu pada orang lain, dan berubah menjadi pembenci. Bukankah monster dalam kisah tersebut memiliki kondisi yang sama?

Socrates dalam dialognya dengan Euthyphro (The Last Days of Socrates-Plato) berkata bahwa rasa malu selalu diikuti rasa takut, bukan sebaliknya. Seperti halnya orang yang malu pada fisiknya yang buruk rupa, maka ia akan takut dihina dan disakiti lantaran fisik pula.

Dunia memang sudah lama memperlakukan orang-orang jelek dengan tidak adil. Jelek dalam artian fisik, maupun versi tidak ideal yang manusia agung-agungkan. Kita terlalu hipokrit bila mengatakan standar jelek atau bagus itu relatif.

Bila memang relatif, tidak mungkin adanya dongeng 'si cantik dan si buruk rupa' , tidak mungkin munculnya produk-produk kecantikkan dengan embel-embel supaya kita tidak tampak tua dan jelek, atau layanan mengubah fisik lewat operasi.

Orang jelek juga kerap mendapatkan diskriminasi. Contoh kecilnya saat seorang jelek melakukan kejahatan, maka mereka akan mendapatkan cercaan yang kasar dan sadis.

Sebaliknya, apabila yang melakukan kejahatan adalah sosok tampan atau cantik, maka orang-orang akan menyayangkan kejadian itu. Padahal sama-sama kriminal lho.

Menjadi orang jelek artinya siap menderita. Satu-satunya agar tidak menderita yaitu mengubah penampilan sebaik mungkin atau menghapus standar yang orang lain bangun.

Seandainya di dunia ini orang-orang puas akan fisiknya sendiri, tanpa perlu insecure dan menganut standar yang ada, maka niscaya akan banyak perusahaan kosmetik bangkrut.

Tidak akan ada kisah orang-orang berselingkuh karena wajah pasangannya yang jelek, tidak akan ada sosok putri-putri negeri dongeng yang digambarkan oleh wajah-wajah yang serupa, dan tidak akan ada istilah orang jelek di dunia.

Andaikan juga Marry hidup di abad sekarang ini, mungkin ia tidak akan pernah menulis kisah itu. Dia pasti berpikir bahwa si monster hanya perlu mencuri uang sebanyak-banyaknya, lalu mencari dokter bedah plastik paling ahli untuk menambal jahitan di muka sang monster dan bimsalabim berubahlah jadi tampan.

Masalahnya selesai, bukan?

Eki Saputra
Read More

Jalan Sesat Berpikir Manusia yang Membudaya


Apa yang akan habis dan tidak pernah dari manusia? Seperti rasa yang tidak pernah nyaman pada akhirnya. Dia merebak dengan suka rela bahwa; masih adakah celah tidak berpikir dengan perut ini? Memang terkesan tidak menjadi enak, namun dedikasi hidup lebih penting dari pada akan sakit perut setiap hari sepanjang hidup ini.

Alarm jam di sana, membuat suatu bukti, mengapa malam ini tidak aku cukupkan saja pada kualitas tidur yang membaik? Ah seperti kicau burung yang akan berbunyi pagi nanti. Dinginnya malam ini, seperti menarik lidah dan leherku. 

Dimanakah nyaman dalam bayang fiksi kehidupan ini? Yang tak menjadi suatu rahasia lagi, rasa hormat yang tertekan, ada kalanya aku masih curiga pada dunia sosial terpandang rancu ini.

Kemanakah akan ada nyaman membawa diriku sendiri? Kesangsian, skeptisisme, kecerdasan yang ambigu menurut banyak anggapan sosial, seperti tergeletak tragis dalam bayang alienasi diri secara sosial di kemudian hari. 


Tetapi pada kenyataannya, bukankah kita "manusia" membutuhkan bahagia dalam balutan sosial yang agung dalam kebersamaan, walaupun hanya perkara basi-basi hidup saja?

Rasanya memang seperti tergeser bak sampah yang penuh, dan akan hilang di larutkan ke sungai dengan debit air yang lumayan besar. Wajah dengan kilauan bercak membekas, tamparan yang keras bagai busur panah, menerjang hati sanubari ini, manusia dengan kehidupannya. 

Lelah diri, lelah memandang apa yang harus seyogiyanya di lakukan manusia. Bekas yang mungkin akan hilang, terkesan ini hanyalah masalah kepatutan, bagaimana diri memandang drinya sendiri.

Aku merasa, bukan pada suatu bentuk anti sosial itu, bukan pula pada bentuk mengingkari dunia ini, hanya saja mental yang terkadang berubah drastis, membawa hidup ini hanya dalam perungan saja yang mecoba ingin direkam untuk nanti. 

Lingkungan bentuk hidup yang kecil, bagai pisang tanpa warna kuning dimakannya, sepet, terlalu lama jauh memandang setiap alienasi kehidupan ini, "teralami".

Mungkin aku harus belajar pada riuhnya semesta pencarian kehidupan bertahan hidup ayam-ayam di belakang rumah. Akankah terbayang lampu hijau yang menjadi dasar dari ditunggunya lampu merah sana? 

Tidak tergambar jelas bahwa, lamunan membawa kesadaran baru akan hidup sekrumunan kecil ayam, yang sedang mengais makanannya sendiri di belakang rumah tanpa dia malu-malu pada manusia.

Bahwa, waktu itu pasti akan berlalu, sudah enyahlah, dalam ketelanjangan bentuk diri yang sebenarnya kecil di balik tantangan dunia yang agung. Romansa, bentuk diri dan upaya memendam rasa yang tidak tersampaikan, tetapkah burung itu akan berkicau di sana suatu saat nanti? Memandang gelap, bercampur riuhnya keabadian, dia bukan bentuk, hanya gurauan kecil bagai Singa jalang yang merapat ke sudut media konvensional sana.

Aku kembali merasakan jidat yang agak sedikit hangat di balik mulai dinginnya udara sore ini. Yang tidak lagi tergambar jauh oleh angannya sendiri, seakan hidup memang untuk mengisi, yang tidak terisi oleh lamunan kebaktian hari libur. Sudahkan ini akan menjadi aral, tentang bintang yang rapuh dalam lamunan kegelapan malam yang akan datang?

Terbayang, betapapun lamunan itu sungguh letihnya. Bukankah aku ingin menuju kebintang yang tidak bergerak itu lagi, keterasingan ini rapuh, mejalar bagai ubi yang tertanam diserambi rumah. 

Biarlah ini dengan gagapnya aku berbicara, mungkin tidak jumpa kawan-kawan pun tidak apa. Bertemu pun semua hanya sebatas orbrolan sana-sini, kalau waktu memang tepat, bolehlah kita sambung obrolan yang tertunda itu dalam bingkai sembari mencari tahu, antara nasib yang lebih baik atau buruk pada pandangan sosial.

Sudut sempit yang pilu, tentang obrolan politik di berbagai sudut media sosial, ah, adanya terstruktur, masif dan segala macamnya seperti bumbu dapur yang harus diisi oleh ibu-ibu rumah tangga. Perbincangan yang menuju percakapan di media sosial, apakah bukan di atur sebelumnya hanya ingin tenar saja bagi para pelakunya? 

Politik dan ekting, dia menyered siapa saja yang ingin numpang tenar bersamanya. Tentu tidak lah aku mempermasalahkan itu, terkadang aku juga ikut arusnya, sembari menyambar penghidupan, tetapi menurut saya, masih dalam tahap keteraturan.

Memang susah mencari seni di sini, apa lagi menjadi pembawa pengetahuan itu, rata-rata manusia Indonesia kebanyakan menyukai perdebatan, mistik dan gossip yang kini menjadi murah di ikuti orang.

Seperti sudah takdir yang tersurat, Indonesia sangat maju seperti hanya menjadi fiksi yang realitasnya setengah maju, dan akan menjadi mundur bila saatnya tidak dibutuhkan lagi oleh kemajuan.

Cerita di sana seorang anak SMP melihat tayangan dari Youtube tentang kesakitan sebuah Bambu. Dalam bayangannya, Bambu itu bertuah, sepeti yang tersaji dalam videonya, bahwa; ada kekebalan tubuh jika di silet sembari memegang Bambu tersebut. 

Kemudian dia berkata pada ayahnya, "di mana banyak tanah yang terdapat banyak bambu di desa ini, ayah?" Dengan sedikit rada sinis, ayahnya menjawab, "sekolah saja kamu yang benar, barang gitu-gitu belum tentu ada di sini, "daratan desa ini".

Dalam orang memproduksi video di Youtube, memang terkesan agak di lebih-lebihkan, tentu untuk menyasar banyak rupiah disana. Upaya gagah-gagahan, merasa tersakti dari yang lain, maka dengan Pring Petuk (Bambu Petuk) yang sedang di genggamnya. 

Gen mistik, gosip, dan kehebohan perdebatan, mungkin itu yang tidak dapat lepas dari semesta logika orang Indonesia, masa lalu maupun masa depan yang terus dibudayakan, kali ini semseta teknologi "media sosial".

Anak-anak itu pun secara langsung teracuni, memang mistik ada, tetapi tidak sebegitu mudahnya tanpa nalar akal sehat, dia dapat menjangkaunya, termasuk semseta berpikir anak SD dan SMP. 

Tayangan yang tidak berbobot itu, disaksikan dengan rasa penasaran anak yang ingin mencari "pring petuk" dan lain sebagainya yang mengilhami alam pikirannya. 

Mungkin benar kata Ayah itu, sekolah dulu yang benar, dan belajar agar pintar terlebih dahulu, baru berpikir dengan apa yang akan kamu mau pikirkan.

Sesat pikir terkadang terjadi, mistik memang akan berhenti pada mistik. Tentang kesaktian yang seharusnya tidak terpublikasi, apakah di sana "layar Youtube" benar tanpa motif lain, sebagai ajang pamer kesaktian tanpa ada motif uang di dalamnya? 

Seperti pertapa yang menyepi di sana dengan sakti, sebagai manusia yang dapat lepas dari kemanusiaannya. Apakah dia akan se-naif gemboran di media, bahwa dia yang telah berhasil itu sebagai manusia pertapa?

Tentu tidak, jika kesaktiannya ada, sebaiknya memang di pendam, seperti pendekar yang hanya memakai kesaktiannya tak kala ada yang mengancam hidupnya. 

Sunguhkah kini ingin "motif" pekerjaaan yang enak itu, kalau bekerja banting tulang keras menjadi ancaman kehidupan modern? Gampangnya mencari uang di Youtube tak kala konten kita digemari, tetapi bukan begitu pula caranya, sehingga membuat anak-anak bahkan dewasa "imajiner" menjadi sesat jalan pikirnya.

Pring petuk yang tidak bertuah itu, terkadang banyak komedi omong yang berlangsung terjadi di setiap ruang obrolannya, meracuni semesta pikiran yang menontonnya di ruang "youtube". 

Tak ayal, jika sudah percaya pada mistikus yang buta, tidak dalam berpikrinya, hanya akan menjadi bahan tipuan bagi orang-orang yang ingin mengambil nilai keuntungan "uang" di sana. Barang dan bisa bertuah, seperti menjadi sebuah janji imajiner, modal percaya, tanpa bisa membuktikannya dengan kasat mata, ah, yang sesat pikirnya memang hanya bermodal percaya.

Pelataran pasar menjual jimat yang katanya sakti, orang-orang percaya, hanya di bumbui batu dengan modal imaji yang terhipnotisasi. Katanya, dalam berbagai obrolan pencinta mistik, dua miliyar setengah tertipu hanya karena mau di bohongi dengan Pring Petuk palsu yang hanya modal Lem dalam bentukannya. 

Tetapi karena kencintaan dan kepercayaannya pada mistik, yang tidak di dasari dengan nalar, tertipu pun hal yang wajar, bermain gaib, mistik, atau apapun tanpa dasar rasional yang kuat, hanyalah akan menjadi kelinci keuntungan orang-orang di sana yang menggunakannya.

Seperti ungkapan Surga dan Neraka yang di ungkapkan para penceramah yang dia sendiri belum merasakan dan mengetahuinya. Apakah harus benar-benar di ikuti, apa yang menjadi dasar masuk Surga, dan tidak masuk neraka, jika yang berceramah didalamnya pun tidak ingin mati muda? beristri sampai empat atas dasar kenikmatan bidadari dunia? licik yang mendera, disana-sini ingin bidadari memuaskan syafatnya. 

Perkara jika dipikir secara rasional, sesat pikirnya juga, mereka bunuh diri, membunuh yang lain "mereka" yang berebeda dari dirinya, tentang janji surga, bukankah apa yang akan tersisa darinya dari tindaknnya, menjadi rancu bagi para korbannya yang tidak berdosa?

Di sana keluarganya kehilangan seseorang anggotanya, menjadi korban kebengisan tidakan tidak berdasar nalar sehat, hanya berdasar janji-janji. Begitu pulu tentang seseorang yang kehilangan bisnisnya, tempatnya di Bom, dan menciptakan ketakutan investor berikutnya, tetapi apa yang dilakukan para penceramah di sana? Merekapun tidak berani mati, dan tetap ingin menikmati pengaruhnya, dan nama besar yang di sucikan oleh para pengikutnya.

"Sudahlah untuk di akhiri, sesat pikir adalah bagian prodak budaya diri dari dalam kita sendiri yang bercokol subur menjadi ideologi. Ada istilah bahwa; kita dapat berubah selama kita mau mengubahnya sendiri."

Memang yang tidak terpikir secara berdasar, tidak hanya janji di ruang Surga dan Nerakanya sendiri saja, harapan janji kemakuran negara pun tetap, mereka bela tanpa nalar sehat yang menderanya. 

Politik dan akal sehat, rasanya bukan pada kebijakan dan apa yang dilakukan pelaku politiknya, tetapi mereka para pencinta elite politik yang mengikuti tanpa nalar membela, menjadi biang kerusuhan di sana, yang jelas dan pasti merugikan kehidupan masyarakat baik "keamanan atau ekonominya".

Selamanya gosip, mistik, dan keriuhan perdebatan tetap di perbicangkan pada ruang publik, yang menjurus bukan pada kesadaran kehidupan, mungkin akan terus menjadi budaya populer masyarakat yang digemari di "Indonesia". 

Bukan saja pada generasinya kini, tetapi lintas generasi dari dulu, sekarang, hingga masa depan nanti.

 Saat itu, memprovokasi masyarakat tentang apa yang sudah dicinta dan dibenci, menjadi lahan penting bagi meraka para pengekting dan penceramah yang di ikuti.

Didalamnya mereka dapat mengambil apa yang di untungkannya, tentang pesanan pembuat kisruh, agen-agen intelejen yang bermain peran di sana, tentang tokoh yang di agungkan padahal mereka sales "masa" yang ingin untungnya saja. 

Tentang tembok kotak pandora yang harus sudah terjebol oleh kesadaran menjadi maju, teknologi yang harusnya mengadopsi kemajuan itu, ternyata masih menjadi hal yang membelenggu, jadi kita akan berbicara tentang apa saat ini?

Konten-konten ruang teknologi yang konservatif, tayangan yang dicari masyarakat sendiri, memang semesta budaya masyarakat tidak menunujukan "dia" akan keluar dari lubang besarnya sendiri. Mereka masih terbungkus atas nama yang umum, mudah di mengerti, dan harapan akan sakti, tetapi nalar yang tidak sampai menghantui dirinya sendiri. 

Budaya yang membudaya, memang sulit ketika akan lepas ketika mereka menerpa, sesat pikir, dan selalu tersesat, merupakan bagian hilang untuk mengisi lagi hidupnya, dan tersesat mungkin selamnya akan menjadi tersesat.

Revolusi budaya yang mengakomodasi, mungkin teknologi pun tidak akan pernah dapat menjawabnya. Seakan ingin untuk menjadi menyerah saja pada apa yang dinamakan dinamika sosial. Umumnya yang mereka ingin lakukan menggali lubang besar miliknya, yang akan menjadi miliknya sendiri. 

Sebisa-nya memang, dia juga menarik untuk memasukan orang lain pada lubang besar itu, tetapi kau dan aku? Hanya tembok besar pemikiran yang membatasinya, tidak lebih dari itu.

Puing-puing memang dapat porak-poranda ke depan. Aku, tahu kau adalah kebangganan dirimu yang bersumber dari mereka, tentang apa dan siapa yang telah berkerumun denganmu. Tetapi sudahlah, ini perkara kami, maka sudahi-lah atas nama lepas dari sesat pikir. Mulai-lah lagi selama sesat pikir itu masih di cintai, sebagai pemukul yang digunakan orang mengambil keuntungan. 

Layaknya banyak konten yang beredar di Youtube dengan sejuta kesaktian akan barang, "dia" bisa hilang tak kala ada sikap sekeptis pada kegaiban ada, cerita janji-janji dan harapan-harapan kemakmuran palsu, jika bukan diri sendiri yang mengusahakannya.

Jika percaya yang gaib itu takdir, bukankah itu ruang privat yang tidak saling mendoktrin dan mengindoktinisasi? Entah siapa yang salah dan berkepentingan di sana, enyalah ini untuk hidup bersama kebebasan yang akan kita ciptakan. Pembelaan akan berujung terhadap yang di bela, tidakkah kau dan aku membela apa yang menjadi kepentingan diri sendiri saja, tanpa memandang figur hebat dari mereka? Tentang uang-uang itu, masihkah berharga dari hidup kita sendiri ketika nyawa menjadi "banten" dalam setiap apa yang akan dibelanya nanti?

Sudahlah untuk di akhiri, sesat pikir adalah bagian prodak budaya diri dari dalam kita sendiri yang bercokol subur menjadi ideologi. Ada istilah bahwa; kita dapat berubah selama kita mau mengubahnya sendiri. Memang jika tidak mampu merubahnya sendiri, sehat pikir haruslah menjadi pemandangannya.

 Tentang isu yang dibayar itu, kalau akal sehat berpikir di pakai, dia tahu, mana yang akan berarti untuk dirinya, dan mana yang akan menjadi "sampah" merugikan bagi dirinya. Sampai kapan pun hanya kualitas berpikir yang tidak dapat menipu manusia dari segala macam preferensi hidunya sendiri. (Toto Priyono)
Read More

Jalan Spiritual Sang Pecinta Sejati (Rabiah Al-Adawiyah)



Judul
: Makrifat Cinta Rabiah Al-Adawiyah
Penulis : Mohamad Fathollah
Penerbit : Araska
Cetakan : 2015
Tebal : 192 Halaman
ISBN : 978-602-300-180-4

Sinopsis 

Rabiah Al-Adawiyah adalah sosok sufi perempuan pertama yang lahir di Bashrah, Iraq. Menjadi sufi dalam perjalanan Rabiah adalah "berlalu dari sekadar Ada menjadi benar-benar Ada". Karena demikian cintanya kepada Allah, Rabiah sampai tidak menyisakan sejengkal pun rasa cintanya untuk manusia. Bahkan Rabiah pernah menolak cinta seorang pangeran yang kaya raya demi cintanya kepada Allah. Dia tidak tergoda dengan kenikmatan duniawi, apalagi harta. Tidak hanya itu, di dalam buku ini dikisahkan bahwa Rabiah telah menolak beberapa ulama terkenal, salah satunya Hasan Al-Bisri. Rabiah mengajukan empat pertanyaan yang membuat Imam Hasan menangis karena merasa tertampar dengan pertanyaan dan pernyataan yang Rabiah lontarkan.

Dalam sebuah syairnya, diungkapkan bahwa ada dua landasan cinta yang dianutnya yaitu cinta karena diri dan cinta karena sebab Engkau (Allah) patut dicintai. Menurut buku ini, Adawiyah sepanjang hidupnya tidak pernah menikah. Beliau merupakan perawan suci yang menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Sang Maha Cinta. Sedangkan menurut versi lain yang ditulis Nawawi Al-Bantani, dikatakan bahwa Rabiah pernah menikah satu kali.

Rabiah Al-Adawiyah dikenal juga sebagai Rabiah Al-Basri. Terdapat selisih perihal tahun lahir dan wafatnya. Namun, di dalam buku ini disebutkan bahwa Rabiah lahir sekitar tahun 105 Hijriyah dan meninggal tahun 185 Hijriyah. Sejarah hidupnya menjadi rujukan bagi banyak orang, baik muslim maupun non muslim. Tidak banyak yang mengetahui pasti kehidupan masa kecil dan keluarga Rabiah Al-Adawiyah karena semasa kecil beliau bukanlah siapa-siapa. Dalam buku karangan Mohamad Fathollah ini hanya disebutkan bahwa paska wafat keduaorangtuanya, Rabiah hidup mandiri. Ketika usianya masih belia dan berumur belasan tahun, Rabiah diculik dan dijual sebagai hamba sahaya.

Setelah menjadi orang yang merdeka, Rabiah kembali ke tempat dimana ia dilahirkan. Di desanya beliau membina kehidupan baru dan menolak kesenangan serta kelezatan dunia. Kehidupan yang dibina atas dasar zuhud, disamping itu beliau memperbanyak taubat, zikir dan puasa, serta salat malam, sebagai manifestasi dari cintanya kepada Allah SWT.

Dengan cintanya yang luar biasa, Rabiah telah melahirkan karya-karya yang monumental. Rabiah Al-Adawiyah merupakan ibu dari lahirnya Ijtihad Cinta yang tak elementar, yakni cinta yang tidak didasari dari balas budi pada sosok yang dicintai. Bagi Rabiah mencintai adalah mencintai. Mencintai ialah tanpa adanya keinginan untuk mendapatkan balasan apapun dari sosok yang dicintai. Rabiah merupakan orang pertama yang membawa ajaran cinta sebagai sumber keberagaman dalam sejarah tradisi sufi Islam. Cinta Rabiah adalah bagian dari sebuah perjalanan mencapai ketulusan.

Kelebihan Buku 

Menurut saya, buku ini sangat mudah dibaca karena bahasanya yang ringan serta cocok untuk siapapun yang ingin lebih mengenal hakikat cinta.

Kekurangan Buku 

Bagi yang ingin mengenal Rabiah secara mendalam dan menyeluruh, buku ini masih kurang komplet/lengkap dalam memberikan informasi tentang kisah cinta dan sosok sufi perempuan pertama ini.

Novi Setiany 
Read More