Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Jalan Spiritual Sang Pecinta Sejati (Rabiah Al-Adawiyah)



Judul
: Makrifat Cinta Rabiah Al-Adawiyah
Penulis : Mohamad Fathollah
Penerbit : Araska
Cetakan : 2015
Tebal : 192 Halaman
ISBN : 978-602-300-180-4

Sinopsis 

Rabiah Al-Adawiyah adalah sosok sufi perempuan pertama yang lahir di Bashrah, Iraq. Menjadi sufi dalam perjalanan Rabiah adalah "berlalu dari sekadar Ada menjadi benar-benar Ada". Karena demikian cintanya kepada Allah, Rabiah sampai tidak menyisakan sejengkal pun rasa cintanya untuk manusia. Bahkan Rabiah pernah menolak cinta seorang pangeran yang kaya raya demi cintanya kepada Allah. Dia tidak tergoda dengan kenikmatan duniawi, apalagi harta. Tidak hanya itu, di dalam buku ini dikisahkan bahwa Rabiah telah menolak beberapa ulama terkenal, salah satunya Hasan Al-Bisri. Rabiah mengajukan empat pertanyaan yang membuat Imam Hasan menangis karena merasa tertampar dengan pertanyaan dan pernyataan yang Rabiah lontarkan.

Dalam sebuah syairnya, diungkapkan bahwa ada dua landasan cinta yang dianutnya yaitu cinta karena diri dan cinta karena sebab Engkau (Allah) patut dicintai. Menurut buku ini, Adawiyah sepanjang hidupnya tidak pernah menikah. Beliau merupakan perawan suci yang menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Sang Maha Cinta. Sedangkan menurut versi lain yang ditulis Nawawi Al-Bantani, dikatakan bahwa Rabiah pernah menikah satu kali.

Rabiah Al-Adawiyah dikenal juga sebagai Rabiah Al-Basri. Terdapat selisih perihal tahun lahir dan wafatnya. Namun, di dalam buku ini disebutkan bahwa Rabiah lahir sekitar tahun 105 Hijriyah dan meninggal tahun 185 Hijriyah. Sejarah hidupnya menjadi rujukan bagi banyak orang, baik muslim maupun non muslim. Tidak banyak yang mengetahui pasti kehidupan masa kecil dan keluarga Rabiah Al-Adawiyah karena semasa kecil beliau bukanlah siapa-siapa. Dalam buku karangan Mohamad Fathollah ini hanya disebutkan bahwa paska wafat keduaorangtuanya, Rabiah hidup mandiri. Ketika usianya masih belia dan berumur belasan tahun, Rabiah diculik dan dijual sebagai hamba sahaya.

Setelah menjadi orang yang merdeka, Rabiah kembali ke tempat dimana ia dilahirkan. Di desanya beliau membina kehidupan baru dan menolak kesenangan serta kelezatan dunia. Kehidupan yang dibina atas dasar zuhud, disamping itu beliau memperbanyak taubat, zikir dan puasa, serta salat malam, sebagai manifestasi dari cintanya kepada Allah SWT.

Dengan cintanya yang luar biasa, Rabiah telah melahirkan karya-karya yang monumental. Rabiah Al-Adawiyah merupakan ibu dari lahirnya Ijtihad Cinta yang tak elementar, yakni cinta yang tidak didasari dari balas budi pada sosok yang dicintai. Bagi Rabiah mencintai adalah mencintai. Mencintai ialah tanpa adanya keinginan untuk mendapatkan balasan apapun dari sosok yang dicintai. Rabiah merupakan orang pertama yang membawa ajaran cinta sebagai sumber keberagaman dalam sejarah tradisi sufi Islam. Cinta Rabiah adalah bagian dari sebuah perjalanan mencapai ketulusan.

Kelebihan Buku 

Menurut saya, buku ini sangat mudah dibaca karena bahasanya yang ringan serta cocok untuk siapapun yang ingin lebih mengenal hakikat cinta.

Kekurangan Buku 

Bagi yang ingin mengenal Rabiah secara mendalam dan menyeluruh, buku ini masih kurang komplet/lengkap dalam memberikan informasi tentang kisah cinta dan sosok sufi perempuan pertama ini.

Novi Setiany 
Read More

Menikmati Hidup seperti Makan Pizza



Judul
: Pizza dari Surga
Penulis : Rini Handayani
Penerbit : Dioma
Cetakan : November, 2016
Tebal : 254 Halaman
ISBN : 978–979- 26-0155-8

Pizza terasa nikmat karena terbuat dari campuran berbagai bahan. Jika tiap bahan dipisah tersendiri, terasa hambar. Jagung, daging, dan kentang jika dimakan terasa biasa saja. Paprika dan bawang bombai justru tidak enak. Namun, ketika semua bahan diracik menjadi pizza, rasanya sangat spesial. Begitulah gambaran hidup yang hendak dituturkan buku ini.

Hidup adalah pizza yang dibikin Tuhan buat manusia. Tuhan membuatnya di surga. Dia adalah Koki terhebat yang tidak pernah gagal menghidangkan kelezatan. Kesedihan, kegembiraan, kesuksesan, kegagalan, dan ratusan kondisi yang dialami manusia adalah toping-nya. Jika kesedihan hanya dilihat secara parsial, akan terasa seperti merica. Namun, jika dirangkai dengan berbagai kondisi lain, akan menjadi penyedap pizza kehidupan. Tuhan tidak pernah salah mengkreasi kehidupan. Jika manusia merasa hidupnya susah, berarti salah sendiri, tidak paham cara menyantap pizza kehidupan (hlm 6).

Tuhan sangat mengasihi manusia. Kasih-Nya tersebar dalam ruang dan waktu. Segala yang dicipta isyarat manusia makhluk istimewa. Dia berhak mendapat cinta dalam setiap jengkal hidup. Dari kupu-kupu, manusi belajar tentang cinta. Dia tersentak ketika telunjuknya ada kupu-kupu cantik yang biasa hinggap di bunga. “Ajari aku cinta yang membuatmu memberi kesempatan jariku kau hinggapi. Ajari aku cinta yang membuatmu ramah. Dengan mau hinggap di jariku, membuatku bersyukur bahwa kupu-kupu saja mengasihiku. Maka Sang Maha Cinta pastilah lebih-lebih mengasihiku (hlm 28).”

Cinta adalah cara terbaik menyantap pizza kehidupan. Tanpa cinta, setiap persoalan dianggap sebagai melulu masalah, bukan bagian pizza yang Tuhan sajikan. Rini Handayani intens melayani gereja. Dia sangat paham bahwa tanpa cinta, tidak mungkin orang bisa bertahan menjadi pelayan gereja. Apa pun pekerjaan tidak luput dari perselisihan dan ketidaksepahaman karena setiap orang ingin senang. Dia mau tampil di depan dan berobsesi menjadi sosok yang diperhitungkan.

Namun atas nama cinta, persoalan demikian bukan prioritas. Atas nama cinta, pelayanan adalah kesejatian, kendatipun bertugas di sektor sepele. “Melayani tidak harus di depan. Bahkan, memberi diri merapikan motor-motor jemaat pun juga bentuk pelayanan (hlm 80).”

Dengan pandangan cinta, setiap persolan hidup diyakini mengandung hikmah agar manusia menjadi kreatif, tangguh, dan bersungguh-sungguh membiaskan cinta kepada umat yang lain. Masalah muncul tatkala kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Masalah guru muncul ketika muridnya nakal.

Problem orang tua saat anaknya tidak patuh. Jika diperhatikan, setiap orang punya masalah. Lalu, siapakah yang melahirkan masalah? Manusia sendiri! Dia kurang mencintai. Manusia juga kurang mencintai Tuhan, “Aku harus mengubah hatiku untuk mencintai Allah lebih sungguh. Dengan begitu, aku pastilah dimampukan mengubah hati anak-anak dengan cintaku,” kata Rini Handayani (hlm 21).

Mencintai butuh perjuangan. Mencintai hidup dan segala yang ada di dalamnya memerlukan pengorbanan, tapi bukan nekat. Nekat adalah keberanian, tanpa perhitungan dan persiapan matang, sedangkan perjuangan dan pengorbanan berlandaskan ilmu serta perhitungan yang mapan.

Dengan ilmu, manusia paham bahwa cinta itu abadi. Cinta sejati tidak takut luka karena darinya akan mengalir benih kasih yang lebih utuh. “Berani terluka karena mencintai akan membawa keberhasilan memiliki hati yang penuh kasih sayang sejati (hlm 192).”

Itulah resep menikmati pizza kehidupan. Setiap pribadi tentu memiliki problem tersendiri, tak bisa tidak. Mustahil menemui semua sesuai dengan harapan. Selalu ada riak-riak dalam kehidupan. Namun, dengan cinta, segalanya sangat mungkin menjadi anugerah terindah.

Diresensi Muhammad Aminulloh, Lulusan alumni STAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo, Jatim
Read More

Membongkar Keajaiban Perdukunan Para Kiai



Judul
: Membongkar Keajaiban Perdukunan Para Kiai
Penulis : KH. A. Mujab Mahalli
Penerbit : AL-MAHALLI PRESS
Cetakan : 1, September 2017
Tebal : 226 Halaman
ISBN : 978-602-8480-91-8

Sejak berabad lamanya telah berkembang ilmu supranatural dan kedigdayaan. Para empu, dukun dan pendekar pada masa kerajaan Hindu, Buddha dan Islam telah meramu mantra-mantra dan mencipta jimat kesaktian untuk peperangan. Cara mereka pun ada yang shalihah dan ada yang fasidah. Yang shalihah, masyarakat menyebutnya sebagai Ilmu Putih dan yang fasidah disebut Ilmu Hitam. Ilmu putih berangkat dari ketawadhu’an untuk perdamaian, ilmu hitam dari kesombongan untuk penguasaan. Itu hanyalah pengesanan masyarakat untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

Namun dalam tradisi pesantren, amal-amal supranatural sering disebut sebagai perdukunan. Kalau ada santri tiba-tiba rajin wirid tengah malam dan puasa Senin-Kamis, teman-temannya mengatakan, “Ia sedang Ndukun.” Kalau Mbah Kiai sedang mengomat-ngamiti air putih, para santri menyebut: “Mbah Kiai sedang Ndukun!” Istilah inilah yang memberikan ilham bagi judul buku ini: Membongkar Keajaiban Perdukunan Para Kiai. (hal xxi)

Mendengar kata perdukunan, ada kesan syirik pada sebagian kalangan atas praktik yang dilakukan oleh para Kiai. Namun dengan membaca pengantar buku ini saja, anda akan mendapatkan perspektif yang berbeda. Sebagai khadim umat dan tokoh sentral yang dianggap serba bisa, para Kiai dituntut untuk memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi masyarakat, dari masalah usaha, sakit gigi, perjodohan, bahkan hingga kasus kerasukan jin.

Lafadz, mantra atau rajah adalah sekadar alat untuk sebuah tujuan. Ia sah dan didengar oleh Allah dengan bahasa atau shigat apa pun, dengan cara apa pun selama tidak ada kezhaliman di dalamnya. Cara berdoa (uslubud-dua) adalah sebuah teknik untuk membangun gelombang tadharru’, agar si pendoa menjadi yakin dan sungguh-sungguh dengan permintaannya, karena Allah lebih mengijabahi kesungguhan daripada keraguan, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah ra:
 “Berdoalah kalian kepada Allah dengan penuh keyakinan akan adanya ijabah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang kosong dan lalai.”(hal xviii).

Buku karya al-Maghfurlah KH. A. Mudjab Mahalli, pendiri sekaligus pengasuh generasi pertama Pesantren al-Mahalli Brajan Wonokromo Pleret Bantul DIY, ini mengetengahkan berbagai contoh perdukunan yang dikembangkan oleh para Kiai yang bukan merupakan ilmu hitam. Praktik yang mereka lakukan adalah penafsiran atas ajaran Nabi Muhammad SAW. Guratan rajah yang ditulis dalam serat ajian yang diwirid merupakan mantra-mantra ilahi yang oleh para Kiai digunakan sebagai wasilah untuk mendatangkan kekuatan, menangkis bala’ atau menangkap keberuntungan.

Buku ini menyingkap aji-aji dan mantra-mantra Kiai dari masa ke masa, warisan para Salafush Shalih yang telah terbukti keampuhannya, atas izin Allah. Oleh karena diungkap dengan menarik dan detail, siapa pun akan mudah dalam mempelajarinya. 


Diresensi oleh: Siswanto (Ta’mir Masjid Ukhuwah Islamiyah Yogyakarta)
Read More

Kiat Produktif di Era Teknologi Digital



Judul
: Scrum
Penulis : Jeff Sutherland
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Mei 2017
Tebal : 296 Halaman
ISBN : 978-602-291-387-0

Sebelum Jeff menggagas Scrum dan bahkan tahun 2005, sebagian besar proyek pengembangan piranti lunak dalam industri teknologi dikerjakan dengan metode air terjun. Proyek dirampungkan secara bertahap lalu dinaikkan ke tahap berikutnya sampai siap dirilis ke pasar.

Proses tersebut lambat, tak terprediksi dan sering kali tidak menghasilkan produk yang diinginkan. Dengan metode air terjun, proyek yang molor sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun merupakan kelaziman. Rencana bertahap yang disusun di awal yang dijabarkan secara memikat dalam diagram Gantt meyakinkan manajemen untuk memegang kendali total atas proses pengembangan produk, tetapi di lapangan hampir selalu telat.

Pada 1993, untuk mengatasi berbagai kendala itu, Jeff bersama Ken Schwaber, mencetuskan cara baru dalam bekerja: Scrum. Cara itu berbeda sekali dengan metodologi manajemen proyek top-down yang preskriptif pada masa lalu. Scrum justru lebih menyerupai sistem adaptif evolusioner yang bisa memperbaiki diri.

Sering terdengar ungkapan, “Bukan itu tugas saya.” Mereka menyetor bagian masing-masing dan cukup sampai di situ (hlm 23). Peluncuran healthcare.gov adalah contoh pas. Ini situs web yang memudahkan warga AS untuk mendaftarkan diri dalam asuransi kesehatan. Situs web itu dirampungkan dalam tiga bulan menggunakan Scrum (hlm 22). Sistem di healthycare.gov seharusnya menghubungkan basis data Internal Revenue Service (Dinas Pajak AS) dengan basis data negara bagian, perusahaan asuransi, dan departemen kesehatan.

Tugas tersebut memang kompleks. Untuk itu, lebih dari 20 kontraktor menggarap bagian-bagian berbeda dan merencanakan dengan metode air terjun. Mereka tidak pernah menaksir situs tersebut dari sudut pandang pengguna, tetapi hanya dari sudut pandang mereka sendiri. Mereka dibiarkan berbuat begitu karena memang tidak sejalan, tidak dipersatukan tujuan bersama.

Manfaat Scrum adalah mempersatukan tim untuk menciptakan hal-hal hebat. Untuk itu, semua tidak saja harus bisa melihat tujuan akhir, tetapi juga mampu memberikan hasil secara bertahap, sedikit demi sedikit, sejalan dengan tujuan. Dalam berbagai lini, Scrum telah diterapkan.

Di Belanda, para guru yang jumlahnya kian bertambah menerapkan Scrum untuk proses belajar mengajar di SMA. Skor ulangan hampir serta merta naik 10 persen lebih. Scrum digunakan untuk merengkuh semua siswa agar aktif dari murid berbakat sampai siswa program kejuruan (hlm 247).

Di Uganda, Yayasan Grameen menggunakan Scrum untuk menyampaikan data pertanian dan pasar kepada para petani miskin perdesaan. Hasilnya, sejumlah orang termiskin di bumi mendapat hasil panen dan pemasukan meningkat dua kali lipat.

Buku dilengkapi panduan resmi metode Scrum dan data termutakhir. Ada juga pengalaman menangani berbagai proyek yang berhasil diatasi dengan Scrum. Yang membedakan Scrum dengan metode manajemen lain, kemampuannya dalam merengkuh konsep evaluasi berkesinambungan untuk menjaring respons dari klien secepatnya, alih-alih menunggu hingga proyek benar-benar rampung.

Scrum memiliki keniscayaan. Singkirkan semua gelar, semua manajer dan seluruh struktur. Orang-orang diberi kebebasan untuk bertindak paling baik. Biarkan mereka bertanggung jawab atas keputusan tersebut.

Diresensi Fatoni Prabowo Habibi, Mahasiswa IAIN Pekalongan
Read More

Melestarikan Cerita-cerita yang Nyaris Terlupakan



Judul : Indonesia Bercerita, Kisah-kisah Rakyat yang Terlupakan
Pengarang : Ramia-ramai
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2017
ISBN : 978-602-6577-07-8
Tebal : 532 halaman

Indonesia kaya berbagai ragam budaya, kesenian, makanan, tarian, suku, agama, dan cerita rakyat. Mereka banyak tak terpublikasikan. Salah satunya cerita rakyat. Yang sudah popular seperti cerita Malin Kundang, Bawang Putih dan Bawang Merah, Keong Mas, Legenda Tangkuban Perahu, Danau Toba, dan Timun Mas. Tapi, pernahkan mendengar cerita Mentiko Betuah, Piso Sumalim, Sultan Titisan Bidadari? 

Buku Indonesia Bercerita menggali kembali kebudayaan melalui cerita-cerita rakyat yang hampir terlupakan. Mungkin karena kurang populer maka cerita-cerita rakyat ini hampir terlupakan. Banyak pesan moral, maksud, dan tujuan mulia dari kisah-kisah ini. Dari cerita rakyat, pembaca bisa menggali kembali kebudayaan dan peradaban suku-suku bangsa. Kebinekaan terasa lebih nyata terpancar dari cerita rakyat tersebut. 

Buku ini merupakan antologi 41 kisah rakyat yang tumbuh dan berkembang dari zaman ke zaman. Buku ini mengajak pembaca berkeliling Nusantara dari Aceh sampai Papua untuk menjelajahi dan mengangkat kisah-kisah yang terlupakan. Para penulis berusaha melestarikan budaya daerah. 

Ada kisah awal mula kucing dan anjing memusuhi tikus. Rupanya ini bersumber dari cerita rakyat Aceh: Mentiko Betuah. Alkisah, pasangan raja dan permaisuri Kerajaan Simelue, Aceh, berikhtiar untuk mendapat momongan. 

Dengan segala daya, cara, dan upaya pasangan ini pergi ke hulu sungai berdoa agar diberi anak. Halangan dan rintangan diterjang untuk mencapai tempat. Singkat cerita, doa mereka dikabulkan. Sembilan bulan kemudian, permaisuri melahirkan seorang putra bernama Rohib (halaman 2). 

Rohib sangat dimanja. Menginjak dewasa, Rohib dikirim ke kota untuk menuntut ilmu. Namun, kebiasaan malas dan manja menghambat belajar. Ia lebih suka berhura-hura. Hingga akhirnya, Raja menyuruh pengawalnya menggantung Rohib karena dirasa tidak berguna (halaman 4). 

Namun, permaisuri mencegahnya. Ia mengingatkan dulu mereka bersusah payah mendapatkannya. Singkat cerita, raja memberi sekantung uang pada Rohib dan menyuruhnya berdagang. Suatu hari, Rohib menolong burung yang dianiaya sekelompok anak dan ular yang hampir dibunuh beberapa orang. 

Ia menukar dengan uangnya sehingga uangnya habis dan ia sedih. Rohib ketakutan ketika ada ular raksasa bertanya kepadanya. Ular itu berterima kasih karena Rohib telah menyelamatkan penghuni hutan, seperti burung dan ular tadi. 

 Ia memberikan mustika bernama mentiko betuah yang bisa mengabulkan segala permintaan Rohib. Dia minta uang banyak dan kembali ke istana. Tapi, Rohib ketakutan kehilangan mentiko betuahnya. Ia pergi ke tukang cincin. Namun, tukang cincin menipunya. Rohib minta tolong pada ular raksasa yang kemudian menyuruh anjing, kucing, dan tikus menemukan mentiko itu. 

Anjing, kucing, dan tikus bekerja sama untuk mendapatkannya. Namun, tikus licik mengatakan bahwa cincin itu hilang. Anjing dan kucing terus mencari di sungai tempat hilangnya cincin seperti dikatakan tikus. Namun, cincin itu tidak ditemukan. Tikus menyerahkan cincin yang disimpan di mulutnya kepada Rohib dan menerima hadiah. 

Kucing dan anjing merasa tertipu. Sejak itu, mereka selalu memusuhi kucing. Dari kisah-kisah yang terlupakan, pembaca bisa belajar banyak nilai moral yang baik. Misalnya berdoa, menolong, berusaha keras, dan belas kasihan. Hal-hal yang kurang baik seperti memanjakan berlebihan, malas, suka berbohong, licik, dan menipu harus dihindari. 

Direrensi Yudadi BM Tri Nugraheny, Alumna Biologi UGM Yogyakarta
Read More

Islam Tuhan Islam Manusia, Spiritualitas di Zaman Kacau


Buku kumpulan essay karya intelektual muslim Haidar Bagir berjudul "Islam Tuhan Islam Manusia, Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau" menawarkan solusi untuk mengembalikan agama sebagai sumber cinta kasih.

Buku ini merupakan hasil perenungan Haidar Bagir dalam kurun 10 tahun terakhir yang menunjukkan konsistensinya menjawab tantangan-tantangan dan pertanyaan aktual terutama masalah agama.

Kumpulan opini dari doktor jurusan filsafat tersebut setidaknya sudah memenuhi tiga kriteria yakni sistematika buku yang berurutan, argumentasinya kuat serta ketajaman gagasan didukung dengan referensi yang kaya.


Buku setebal 288 halaman ini tidak ada ilustrasi didalamnya yang mungkin saja bisa menjadi daya tarik pembaca. Meskipun demikian seolah berhasil ditebus dengan dukungan komunikasi pemasaran terpadu lewat penjelasan-penjelasan di forum tatap muka serta kontinuitas unggahan audio video, bagan dan foto di media sosial.

Buku ini dibuka dengan "Aku dan Islamku" sebelum Kata Pengantar dan Daftar Isi. Sub judul "Aku dan Islamku" seolah menjawab rasa ingin tahu siapa sebenarnya penulis buku dan bagaimana pandangannya tentang Islam.

Sub judul "Aku dan Islamku" berisi poin-poin ringkas sebanyak 10 butir yang antara lain berisi tentang kesadaran penulis bahwa akal adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Dilanjutkan dengan poin kedua tentang kesadaran bahwa akal memiliki keterbatasan. Poin berikutnya adalah pandangan penulis bahwa rasionalitas bukanlah satu-satunya soko-guru keilmiahan.

Selain itu, penulis juga meletakkan poin tentang objektivitas dan kesadaran bahwa dirinya ikut menjadi bagian mata rantai yang melanjutkan akumulasi hasil-hasil pengetahuan.

Selanjutnya Haidar Bagir menulis bahwa prinsipnya dalam berislam adalah keterbukaan, pluralisme dan demokrasi serta mengedepankan dialog yang produktif, konstruktif dan saling memperkaya.

Poin lainnya adalah tentang upaya penulis untuk memisahkan unsur-unsur yang sakral dari yang profan (lawan kata sakral). Profan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan.


Masih pada bagian depan dari buku itu, penulis mengatakan bahwa Islam selalu bisa menjawab tantangan zaman. Sebagai informasi, Haidar Bagir masuk dalam daftar 50 teratas "Muslim Paling Berpengaruh di Dunia" versi "The Muslim 500" oleh Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) yang berkedudukan di Amman, Jordania.

Haidar Bagir mengatakan dalam bukunya bahwa dia menggunakan pendekatan hermeneutic terhadap teks-teks Al Quran, Sunnah, dan tradisi Islam lainnya.

Teori hermeneutic adalah teori yang mempelajari tentang pemahaman, terutama melalui interpretasi yang sistematis dari sebuah perilaku atau aksi, dan teks.

Pada awalnya teori ini digunakan untuk menginterpretasikan isi kitab suci Bible. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi melalui interpretasi manusia tentang apa yang mereka alami dan ketahui.

Terbagi lima bagian 

Secara keseluruhan, isi buku ini dibagi kedalam lima bagian yakni dimulai dengan masalah, disusul bagian dua berisi khazanah pemikiran Islam, pada bagian ketiga tentang dialog intra Islam dan bagian empat tentang dialog Islam, budaya dan peradaban. Buku ini ditutup dengan solusi (bagian lima) yang berisikan tentang Islam, cinta dan spiritualitas.

Menurut seorang peneliti Wahyudi Akmaliyah yang menjadi narasumber bedah buku tersebut di Jakarta, setidaknya buku ini menuliskan tiga persoalan utama. Tiga persoalan itu adalah "dunia yang mengalami fase peluruhan" (halaman 17).

Persoalan kedua adalah menguatnya radikalisme dan takfirisme. Sedangkan persoalan ketiga adalah hadirnya teknologi yang mengakibatkan orang mudah tersesat dan disorientasi yang ditandai dengan kemudahan memperoleh informasi yang dicari namun kehilangan tingkat refleksi dan kedalaman atas informasi.


Selanjutnya Wahyudi Akhmaliyah mengatakan bahwa buku ini menawarkan resep beragama yakni revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dengan meletakkan budaya sebagai tempat persemaian seluruh aspek kehidupan. Selain itu resep dalam konteks beragama adalah menawarkan gagasan wajah kemanusiaan Islam.

Sementara itu, menurut Moqsith Ghazali, doktor bidang Tafsir Al Quran dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, buku ini adalah cerminan ketaqwaan Haidar Bagir lewat kemampuannya menuliskan karya yang membahagiakan.

Salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu mengapresiasi karya Haidar Bagir dan menyebutnya memiliki kemewahan "waktu untuk menulis" yang tidak dimiliki semua orang.

Kerinduan Pemikiran 

Buku ini sempat menuai kontroversi di awal peluncurannya. Tercatat kehadiran Haidar Bagir sempat ditentang oleh kelompok tertentu menjelang bedah buku tersebut di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta awal Mei lalu.

Namun demikian untuk acara bedah buku selanjutnya yang dilaksanakan di sembilan universitas di Tanah Air justru mendapat sambutan positif dari civitas akademika. Antusiasme mereka tercermin dari jumlah kehadiran ratusan mahasiswa setiap digelar acara serupa di tiap perguruan tinggi.

Kondisi seperti ini, menurut Putut Widjanarko, Vice President Operation Mizan Publika, dianggapnya sebagai gejala adanya kerinduan pemikian tentang wacana-wacana Islam.

"Diskusi ilmiah di kampus-kampus yang dihadiri ratusan mahasiswa menunjukkan kerinduan pemikiran tentang wacana Islam dan sekaligus gairah pemikiran radikal dapat ditangkal," kata Putut yang bertindak salaku moderator acara bedah buku tersebut di Auditorium Widya Graha Lantai 2 Gedung Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta.

Buku ini juga mendapat sambutan tertulis dari dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Gunawan Muhamad, Mochtar Pabottingi, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif (Buya) dan Franz Magnis-Suseno.


Menurut Syafii Maarif, melalui buku tersebut Haidar Bagir telah berusaha menyuarakan gagasan-gagasan yang reflektif, segar dan degan tujuan agar tumbuh kultur lapang dada dalam bertoleransi dan menyikapi perbedaan pendapat yang berbeda pandangan, termasuk juga mudah mengkafirkan seseorang dalam lingkungan agama yang sama.

Sebagai sebuah kumpulan essay tentu tidak semua generasi millennial tertarik membaca, maka jangan heran bila karya bagus seperti ini sangat jarang mendapat tempat di media massa.

Pada akhirnya harus disadari bahwa tidak ada satu-satunya kebenaran yang mutlak, semuanya adalah kebenaran yang sifatnya relatif sehingga buku ini seolah-olah diharapkan mampu menyiapkan masyarakat majemuk yang siap untuk berbeda pendapat.

Oleh: Dyah Sulistyorini
Read More

Mahakarya Islam Nusantara : Dokumentasi Khazanah Keilmuan Islam

  
 Karya A Ginanjar Sya’ban ini merupakan mozaik dan bukti otentik karya-warisan ulama Nusantara yang menjadi dokumen penting khazanah keilmuan Islam. Sebuah langkah awal dalam “proyek peradaban” untuk mengungkap ratusan bahkan ribuan naskah tentang Islam Nusantara yang siap kembali “menginfasi” Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya.

Judul Buku : Mahakarya Islam Nusantara; Kitab, Naskah, Manuskrip & Korespondensi Ulama Nusantara Cover Buku Mahakarya Islam Nusantara Ginanjar
Penulis : A. Ginanjar Sya’ban
Tebal : Ukuran 16 x 24 cm Halaman 672 hal
Cetakan Pertama Mei 2017
Penerbit : Pustaka Compass
Peresensi : M. Ridho An. S.Fil.I
Harga Rp. 150.000,-

Info dan pemesan buku hub 081384478968

Mahakarya Islam Nusantara : Dokumentasi Khazanah Keilmuan Islam


Dalam sebuah forum kajian Turats Ulama Nusantara di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Ahmad Ginanjar Sya’ban pernah mengatakan bahwa Nusantara memiliki khazanah penaskahan yang luar biasa kaya. Naskah-naskah ini lahir dari ulama-ulama asli Nusantara yang menjadi referensi utama dunia keilmuan. Tapi ironis, Indonesia sendiri tidak memilikinya. Naskah tersebut malah banyak tersimpan bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di berbagai perpustakaan dunia Barat, dan Timur Tengah.

Di Timur Tengah, banyak naskah ulama Nusantara yang mencapai ribuan. Naskah-naskah itu tersimpan dan tersebar di pelbagai perpustakaan di Mekah, Riyadh, Baghdad Mesir, Istanbul Turki dan di Qum Iran. Dan kategori naskah ini adalah kategori naskah penting dalam rentang abad yang sangat lama, antara abad ke 17 M – 20 M, bahkan sampai abad 21 M. Menandai samudera kekayaan intelektual dan keagungan khazanah literatur Islam Nusantara yang demikian luas dan kaya.

Sayangnya, belum ada sarjana yang mengkajinya secara mendalam dan memetakan sejarah literatur Islam Nusantara tersebut secara runut, paling tidak dengan membuat ensiklopedi akannya. Hal ini seakan menandakan adanya sebuah “ruang kosong” (farâgh) dalam wilayah kajian ini, padahal sangat penting.

Buku Mahakarya Islam Nusantara; Kitab, Naskah, Manuskrip & Korespondensi Ulama Nusantara karya Ahmad Ginanjar lahir sebagai ikhtiar untuk mengisi ruang kosong tersebut (sadd al-farâgh). Sekaligus sebagai upaya awal menuju penggagasan “bibliografi karya-karya ulama Nusantara”, semacam ensiklopedi yang memberikan kita data sekaligus bentangan peta akan khazanah karya-karya intelektual ulama Nusantara sepanjang lintasan sejarah.

Dalam Buku ini, Ahmad Ginanjar berhasil menyajikan hasil penelusurannya tentang kitab-kitab langka itu dalam pelbagai bidang. Mulai dari ilmu kalam (teologi), fikih (yurisprudensi Islam), tasawuf, filsafat, tata negara (siyasah al-daulah), etika, sejarah, gramatika, matematika, kedokteran, dan banyak lagi kitab atau naskah unik yang diulas di buku ini. Ia menyebut Khazanah keilmuan itu sebagai “Mahakarya Islam Nusantara” yang tentu sangat tidak ternilai harganya.

Dialektika Intelektual Antara Ulama Nusantara & Timur Tengah

Mendaras turats ulama nusantara sangat penting. Kita dapat menemukan bagaimana terjadinya koneksi ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah sebagai bagian dari proses transmisi ajaran Islam. Bagaimana terjadinya dialektika budaya Islam dengan budaya lokal sebagai konsekuensi logis dari proses Islamisasi Nusantara.

Karya-karya ulama Nusantara dan persoalan Islam di Nusantara yang ditulis Ulama Timur Tengah itu mencapai ratusan jumlahnya. Sebagian ada yang dapat diakses dan dikaji, dan sebagian lagi masih berupa naskah-manuskrip yang “tertimbun” di sebalik “peti-peti” perpustakaan dunia, baik di Nusantara, Eropa, atau pun di Timur Tengah.

Salah satu kitab yang diulas Ginanjar dalam buku ini adalah adalah Imta’ Uli al-Nazahar bi Ba’dh A’yan al-Qarn al-Rabi ‘Asyar , yaitu kitab yang memuat Biografi Ulama Nusantara Abad ke-14 H. Kitab terlengkap pertama dalam bahasa Melayu karangan Syaikh Nuruddin Al-Raniri (1054 H/ 1644 M). Kitab ini terhitung penting karena juga memuat silsilah sanad (mata rantai keilmuan), sekaligus jaringan ulama di Mekkah pada abad ke 14 H.(hlm. 3). Sedangkan kitab yang menghimpun sanad ulama-ulama Nusantara berjudul al-’Iqd al-Farid min Jawahir al-Asanid karangan Syaikh Yasin al-Fadani.(553).

Ginanjar juga berhasil mendokumentasikan kitab-kitab yang berisi jawaban atas perdebatan fikih maupun akidah yang terjadi di Nusantara. Sebut saja kitab ‘al-Jawabat al-Gharawiyyah li al-Masail al-Jawiyyah al-Juhriyyah; berisi fatwa-fatwa ulama Madinah untuk masalah Islam Nusantara Pasca Walisongo. (1070 H/ 1659 M). Kitab Kasyf al-Muntazhir li ma Yarahu al-Muhtadhir; Kitab Syaikh Ibrahim Kurani tentang tradisi kematian muslim Nusantara abad ke-17 M yang tak terlacak di Timur Tengah (Abad ke-17 M). Dan yang paling fenomenal adalah kitab Risalah ‘Abd al-Ghani fi Hukm Syaith al-Wali; berisi pandangan ulama Damaskus atas masalah Syaikh Siti Jenar di Nusantara abad ke-18 M.

Dari uraian kitab-kitab tersebut, inilah yang dimaksud Ginanjar bahwa ada proses transmisi ajaran Islam, dialektika intelektual atau dialog ilmiah antara Ulama-ulama Nusantara dan Timur Tengah. Dialektika ini tidak hanya berwujud karya ilmiah, tapi juga berbentuk korespondensi seperti kitab al-Durar al-Saniyyah (Surat Ulama Nusantara untuk Sultan Turki-Ottoman) (hlm. 623), juga polemik tentang persoalan tertentu seperti kitab al-Madzhab (kitab yang merekam perdebatan kaum tua dan kaum muda di Nusantara awal abad 20). (hlm. 85). Dan tidak kalah menarik ulasan kitab “Nuzhah al-Afham..” tentang polemik hukum rokok karya Syekh Dahlan Tremas.(hlm. 321).

Tidak hanya itu, dalam bukunya, Ginanjar menunjukkan keberhasilannya menemukan dan mengungkap kitab langka seperti Tadzkirah al-Gabi fi Syarh al-Hikam, karya Syaikh Burhanuddin Ulakan Padang. Keberadaan karya ini pada mulanya mahjul (tidak diketahui) dan dianggap hilang Karena tidak terlacak, hingga akhirnya ditemukan dan diungkap kembali oleh al-Fadhil Buya Apria dan Chairullah.(hlm. 80).

Komitmen Kebangsaan

Buku ini mengajak pembaca mengenal lebih jauh kitab klasik (kitab kuning) karya ulama nusantara. Rangkain ulasan kitab maupun manuskrip yang disusun Ginanjar ini adalah upaya membangun pemahaman keislaman sekaligus semangat kebangsaan. Hal ini bisa terwakili dengan mengungkap beberapa karya seperti Kitab Tsamrah al-Muhimmah, sebuah kitab pusaka Tata Negara Melayu-Nusantara. Kitab Nazam Sejarah Besar Nahdlatul Ulama (NU) karya KH. Abdul Halim Leuwimunding dan Kitab Pusaka Presiden Soekarno berjudul al-‘Audah ila Iktisyaf Tsauratina.

Kitab terakhir tersebut didapatkan A. Ginanjar didapatkan dari perpustakaan Biblioteka Alexandria Mesir. Merupakan terjemahan dari buku berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita yang berasal dari pidato Soekarno di HUT RI ke-14. Memuat pandangan revolusioner Soekarno, diantaranya menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan falsafah hidup khas Nusantara, yaitu gotong royong atau al-Ta’awun al-Musytarak. Di kancah perpolitikan dunia Arab masa itu, kitab ini membuat Indonesia punya pengaruh besar.

Karya A Ginanjar Sya’ban ini merupakan mozaik dan bukti otentik karya-warisan ulama Nusantara yang menjadi dokumen penting khazanah keilmuan Islam. Sebuah langkah awal dalam “proyek peradaban” untuk mengungkap ratusan bahkan ribuan naskah tentang Islam Nusantara yang siap kembali “menginfasi” Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya.
Read More