Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Pakai Jasa Pawang Hujan itu Termasuk Sirik, Nggak?

Pawang hujan sedang ritual © Budi Prast


“Mas, pakai jasa pawang hujan itu menurutmu sirik, nggak?” Laki-laki yang bertanya itu jelas bukan sembarangan. Kala itu, dia sedang mempersiapkan hajatan pernikahan di panggung terbuka.

Jujur saja, saya berat sekali menjawab pertanyaan itu. Karena makin tua, saya makin sadar, tidak semua hal bisa saya omongkan apalagi dalam ranah agama, tema yang tidak saya kuasai. Tapi pertanyaan ini punya implikasi besar pada keputusannya. Saya merasa keliru jika tidak membantunya membuat keputusan yang tepat.

“Biasanya kalau kamu sakit, apa yang kamu lakukan?” Saya mencoba bertanya dari sisi yang lain.

“Kalau sakit biasa saja yang kadang cuma kerokan atau minum obat, Mas. Kalau parah ya pergi ke dokter.”

“Oke. Kamu sebetulnya paham gak logika obat yang kamu minum. Berisi zat apa saja, dan bagaimana zat-zat itu kelak bekerja di tubuhmu sehingga bisa menangkal sakitmu.”

“Ya nggak, Mas.”

“Berarti kamu bermodal percaya saja.”

“Dan modal pengalaman. Karena jika keluargaku minum obat itu, maka mereka sembuh.”

“Oke. Modal percaya dan pengalaman.”

“Kamu paham gak cara kerja dokter ketika ngobati kamu? Yang mumet kepalamu tapi yang disuntik pantatmu. Atau obat-obat yang dia kasih.”

“Nggak paham.”

“Tapi percaya?”

“Percaya.”

“Kenapa?”

“Karena dia sekolah kedokteran dan ya memang dia dianggap bisa menyembuhkan.”

“Oke. Kamu pasti gak paham cara kerja pawang hujan kan?”

“Gak paham.”

“Sama.”

“Lho kok dadi ndagel ngene, Mas…”

“Bentar, mau tak lanjutin… Tapi kamu punya pengalaman orang-orang di sekitarmu pakai jasa pawang hujan kan?”

“Punya.”

“Berhasil menghalau hujan?”

“Berhasil.”

“Apa bedanya dengan obat dan dokter? Kan kamu sama-sama gak paham, dan sama-sama berdasarkan referensi keberhasilan?”

Laki-laki itu diam. Mikir. Manggut-manggut. “Tapi kalau dokter dan obat kan ada sekolahnya, Mas?”

“Berarti ini urusannya antara sekolah dengan gak sekolah? Apa pelawak mesti sekolah dagelan agar bisa menghibur orang? Apakah ada sekolah agar ahli nyanthet orang? Kalau gitu mestinya aku jadi filsuf dong, gak jadi penulis. Dan kamu gak jadi apa-apa wong lulusan SMA, itu pun ijazahmu ilang. Padahal tulisanmu bagus, dan kamu punya ketrampilan lain.”

Dia tertawa. Tentu saja sambil mikir.

“Pawang Hujan tentu ada ilmunya. Kalau nggak ya gak mungkin ada regenerasi. Mestinya sudah punah. Hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara melakoni ilmu itu…”

“Soal siriknya, bagaimana?”

“Nah, itu. Aku tanya tapi kamu harus menjawab jujur ya…”

Dia mengangguk.

“Kamu kalau sakit terus minum obat atau pergi berobat ke dokter, kamu percaya dengan obat dan dokter atau percaya yang menyembuhkan Tuhan?”

Dia terlihat ragu.

“Percaya Tuhan yang menyembuhkan.”

“Kalau aku seringnya nggak begitu. Aku sering percaya pada obat dan dokternya. Padahal kalau berkaca pada sikap tauhid, hal itu keliru. Mestinya Tuhan yang menyembuhkan, hanya saja lewat obat dan dokter. Obat itu terdiri dari zat-zat yang diciptakan Tuhan, manusia yang meramunya juga diciptakan oleh Tuhan. Dokter diberi akal oleh Tuhan. Diberi kemudahan mencari ilmu juga oleh Tuhan, dll.”

“Eh, aku juga begitu ding, Mas.”

“Berarti sebetulnya kita sudah biasa sirik kecil-kecilan, kan?”

“Iya.”

“Jadi, kalau misal kamu jadi menggunakan jasa pawang hujan, sebaiknya pikiranmu disetel dari sekarang: bahwa Tuhan yang bisa menghentikan dan mengatur hujan, hanya saja lewat mekanisme tertentu yang dipelajari oleh pawang hujan. Dan pawang hujan juga ciptaan Tuhan.”

Kini, laki-laki itu manggut-manggut lebih mantap.

“Terus jadi mau pakai jasa pawang hujan atau tidak?”

“Jadi, Mas.”

“Lain kali jangan tanya beginian kepadaku ya? Tanyakan ke para kiai. Soal beginian, aku gak begitu ngerti.”

Ketika hajatannya tiba. Mendung tebal. Di sekitar tempat itu hujan lebat. Hanya di sekitar tempat itu, hujan turun rintik-rintik. Itu pun sesekali.

Saya tidak tahu, dia jadi pakai jasa pawang hujan atau tidak. Yang jelas, patut disyukuri, semua acara lancar…


Puthut EA





Read More

7 Filosofi Hidup dari Jepang, agar Hidup Lebih Bermakna



Berbicara tentang negara jepang tidak ada habisnya. Karena Jepang merupakan negara dengan kemajuan teknologi paling berkembang pesat di dunia. Sudah banyak karya-karya teknologi dan mesin-mesin canggih yang tercipta dan digunakan dalam keseharian masyarakatnya.

Tak heran banyak orang yang ingin pergi ke negara sakura, mulai dari hanya sekadar berwisata, melanjutkan Study, menetap atau tinggal dan bekerja di jepang.

Selain karya teknologinya, orang-orang Jepang juga memiliki budaya keseharian yang sampai sekarang masih dipegang erat dan dilakukan setiap harinya. Budaya tingkah laku tersebut dapat dikatakan juga sebagai sebuah filosofi hidup yang sangat baik untuk diterapkan.

Berikut ini adalah beberapa Filosofi Hidup yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita:

1. Ikigai yaitu Alasan untuk Hidup

Konsep "ikigai" memiliki definisi dan mempraktikkan tujuan hidup seseorang. Sederhananya adalah, pasti ada alasan mengapa kita bangun di pagi hari?

Filosofi Ikagi ini harus muncul dari keinginan diri sendiri dan menjadi sesuatu yang disukai dan kuasai.

Orang Jepang percaya bahwa setiap orang memiliki Ikigai mereka sendiri dan menganggapnya sebagai perjalanan penting untuk membawa kepuasan dan makna hidup.

Sehingga cobalah mencari tujuan hidup kita. Karena dengan adanya tujuan hidup kita membuat hari-hari kita bermakna dan terarah. Layaknya kompas yang memberi petunjuk di saat kita tersesat dalam kehidupan yang fana ini.

2. Oubaitori yaitu Jangan Membandingkan Diri

Filosofi "oubaitori" memiliki arti untuk jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bersyukurlah apa yang kamu miliki dan yang telah kamu capai.

Filosofi ini tertuju dari empat karakter kanji, yaitu buah ceri, plum, persik, dan aprikot yang melambangkan perbedaan cara berkembangnya setiap pohon. Sehingga ini memberikan kita pelajaran makna kehidupan bahwa setiap individu memiliki keistimewaan masing masing yang mungkin tidak dimiliki individu lain.

3. Kaizen yaitu  Terus-menerus Berkembang

Kaizen berarti perbaikan terus-menerus atau perubahan menjadi lebih baik dan merupakan filosofi pribadi dan bisnis-karir yang berusaha untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas di semua tingkat hidup.

Dengan memiliki mindset ini, maka kita termotivasi terus menerus untuk melakukan perbaikan terus-menerus secara bertahap dan membuat perubahan kecil menjadi lebih baik dan menghargai prosesnya.

4. Wabi Sabi yaitu menerima ketidaksempurnaan

Filosofi wabi sabi adalah filosofi hidup orang Jepang dengan cara menerima ketidaksempurnaan dan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Wabi Sabi mendorong untuk lebih berfokus pada keberkahan yang dimiliki dibanding berharap kepada hal yang tidak kita terima.

Selain itu, Wabi Sabi sangat cocok diterapkan pada masyarakat modern saat ini yang terus menerus mengejar kesempurnaan. Bisa kita lihat, manusia mengejar berbagai aspek yang pada akhirnya menyebabkan depresi, cemas, dan stres.

Filosofi Jepang ini bisa juga digunakan untuk mengurangi gaya hidup yang sangat konsumtif dan selalu mengikuti tren yang tidak ada habisnya.

5. Kintsugi yaitu Seni Memperbaiki pecahan keramik

Seni kintsugi memiliki arti perjalanan emas dan kintsukuroi, mengacu pada perbaikan emas. Filosofi ini sering dikaitkan dengan perbaikan tembikar yang rusak dengan vernis emas atau perak.

Sehingga Kintsugi memberikan pelajaran hidup bahwa perjalanan emas, membantu dan mengubah perspektif kita merangkul kekurangan kita sendiri sebagai hiasan yang membuat diri lebih ekstetik dan berharga.

6. Gaman yaitu Menjaga Kehormatan, Meski Dalam Tekanan

Filosofi Gaman memiliki arti bahwa kesabaran, ketekunan, dan toleransi. Bila kita menggunakan pola pikir filosofi gaman, menjadikan kita akan bertahan dalam situasi sulit dengan pengendalian diri dan martabat.

Sementara itu, dalam ajaran Buddhis Zen, Gaman adalah strategi untuk tetap ulet dan sabar selama masa-masa sulit dan merupakan ciri kematangan emosi.

7. Mono no aware yaitu  Empati

Secara harfiah, mono no aware berarti "kesedihan," tetapi juga diterjemahkan sebagai memiliki empati terhadap hal-hal dan ephemera. Dengan memiiliki filosofi ini, membuat kita memiliki sikap empati terhadap masalah-masalah di sekitar lingkungan kita.

Dengan begitu menjadikan diri ini bermakna karena memberi solusi atas masalah-masalah tersebut. Juga memiliki kesadaran untuk terus berempati dan bermanfaat untuk sesama.

Juwinda Ningrum


Read More

Jangan Rusak Budaya dengan Politisasi Agama


Belakangan ini di dunia maya sedang ramai memperbincangkan ceramah Khalid Basalamah. Menurutnya wayang haram dan lebih baik dimusnahkan. 

Begitu mudahnya seseorang tokoh agama atau orang mengklaim dirinya paham agama, menyatakan produk budaya haram atau halal. 

Apakah keris lalu dibilang musrik? Mari kita belajar sejarah. Sudahkah tepat kan pernyataan tersebut? Apa salahnya produk budaya tersebut sampai harus dimusnahkan? Apakah masyarakat saat ini memberhalakan wayang?

Semakin kesini, terkadang semakin membuat kita tidak habis pikir dengan maraknya politisasi agama di tengah masyarakat. Kenapa selalu tradisi atau kearifan lokal yang dipersoalkan? Beberapa waktu lalu sesaji yang dipersoalkan. 

Seorang pemuda viral karena menendang sesaji di puncang gunung Semeru. Karena sesaji itulah yang membuat Allah murka. Dari mana dia bisa tahu? Jika terjadi letusan gunung, apakah hal tersebut bagian dari murkanya Allah? Lalu, sesaji di sekitar gunung Semeru, bukahkah hal yang wajar karena dilakukan oleh masyarakat Tengger, yang beragama Hindu?

Agama memang penting. Tapi juga harus diposisikan secara benar. Jika wayang diharamkan sampai harus dimusnahkan lantaran suka atau tidak suka, apakah masuk akal? Haramnya sesuatu hal itu harus ada yang mendasarinya. 

Jika wayang sudah tidak dibenarkan, kenapa Wali Songo justru menggunakannya untuk media dakwah? Dan karena media wayang inilah, masyarakat ketika itu bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah.

Kenapa politisasi agama ini begitu marak? Memang tidak bisa dilepaskan dengan maraknya propaganda radikalisme di dunia maya. Kelompok ini terus melontarkan provokasi-provokasi dengan berbagai cara. Bibit kebencian terus dimunculkan. Tidak hanya ditujukan kepada kelompok yang dianggap berseberangan, kelompok yang berbeda pendapat, beda keyakinan, atau yang lain seringkali juga menjadi korban provokasi kelompok ini. Bahkan tak jarang mereka juga melontarkan ajakan untuk melakukan tindakan intoleransi di media sosial.

Hal semacam ini harus dimaknai sebagai ancaman. Bibit radikalisme terus berkembang dengan berbagai macam bentuk. Apa saja dianggap salah, dianggap sesat, bahkan kafir. Bahkan wayang yang menjadi produk budaya pun, juga ikut-ikut disalahkan. Nah, sebagai generasi yang cerdas, kita harus bisa memilah milah mana informasi yang benar, mana ayat yang sesuai dengan konteksnya, agar kita tidak mudah terprovokasi.

Dalam ceramahnya, Basalamah menyebut bahwa slam perlu dijadikan tradisi dan budaya, bukan mengislamkan budaya. Pertanyaannya kemudian, bukankah Islam adalah nilai yang akan selalu relevan dan sesuai dengan budaya dan tradisi apapun, selama dalam tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan menimbulkan kemudharatan? Jadi, dalam memahami suatu hal jangan terbalik-balik. Jika budaya dipersoalkan, bukankah pakaian ini bagian dari produk budaya? Lalu, kenapa pakaian tidak dipersoalkan?

Sekali lagi, mari menjadi pribadi yang cerdas. Sebelumnya, menyanyikan Indonesia dianggap haram. Apa lagi ini? Jika tidak suka dengan pemerintah, tidak usah mencari kesalahan. Tidak usah membangun kebencian ini itu, sampai lagu kebangsaan diharamkan. Hormat bendera haram. Politisasi agama hanya akan menyuburkan kebencian dalam diri, dan menularkan kebencian tersebut  ke masyarakat. Apakah sikap ini dianjurkan dalam Islam? Tentu tidak. Karena Islam agama yang mengedepankan nilai-nilai kebaikan untuk semua orang. Salam introspeksi dan toleransi.

Ahmad Ricky Perdana


Read More

Jangan Berjanji Kalau untuk Diingkari


Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari yang namanya perjanjian. Perjanjian itu dibuat dengan orang lain maupun hanya dengan diri sendiri. Perjanjian itu juga entah berkaitan dengan hal yang sangat penting dalam hidup kita maupun sesuatu yang biasa saja. Dalam tulisan singkat ini, saya mengulas mengenai mengapa orang sangat mudah mengingkari janji.

Seringkali ada orang yang setiap kali berjanji selalu mengingkarinya. Ia tidak pernah konsisten. Tentu saja hal ini menjengkelkan kita apabila orang tersebut merupakan kolega kerja, teman, saudara atau orang di sekitar kita. Atau juga kita adalah orang berjenis seperti ini. Kita berjanji baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri dan tidak menepatinya. Kita bahkan frustrasi dengan karakter kita ini.

Supaya pembahasan tidak luas, saya menyempitkan lagi tulisan ini dan memberi batasan pada alasan kenapa kita sering kali mengingkari janji yang kita buat dengan diri kita sendiri. 

Misalnya kita berjanji untuk tekun belajar atau berjanji untuk tidak malas-malasan lagi. Akan tetapi setiap kali kita berjanji kita selalu mengingkarinya. Menurut hemat saya, ada beberapa penyebab yang membuat kita sering kali mengingkari janji.

Pertama, kita belum sungguh-sungguh berjanji. Artinya saat kita berjanji, kita belum sepenuhnya sadar saat mengucapkan  janji itu. Sambil lalu saja. Hanya kata-kata belaka. Saat berjanji, kita tidak memiliki niat yang tulus untuk menepati janji itu. Kita tidak benar-benar serius saat mengucapkan janji itu. Saya sering kali menjumpai orang seperti ini. 

Bahkan saya pun sering berbuat seperti ini. Karakter dari orang seperti ini, adalah orang yang kurang konsisten. Ia adalah pribadi yang sering mengucapkan janji tanpa menepatinya. 

Sangat berbeda dengan orang yang sungguh-sungguh berjanji. Mereka sekali berjanji langsung ditepati. Sehingga dalam hidupnya, tidak banyak janji kosong yang dibuat.

Kedua, penyebab kita mengingkari janji yang kita buat adalah janji tersebut terlampau berat untuk ditepati. Artinya kita memaksa diri kita terhadap sesuatu yang sebenarnya sulit kita jangkau. Dan mungkin dalam hati, kita sudah merasakan bahwa hal itu sangat sulit untuk ditepati tetapi kita tetap memaksa diri untuk berjanji. 

Selain itu, kita juga sebenarnya masih ingin tinggal dalam suasana sebelum kita berjanji. Maksud saya, misalnya kita berjanji untuk berubah; untuk tidak bermain game lagi. 

Akan tetapi, sebenarnya kita masih memiliki keinginan untuk bermain game. Maka tidak salah dalam perjalanan waktu, kita tidak bertahan dengan janji yang kita buat.

Solusi untuk permasalahan di atas sebenarnya sangat sederhana yakni jangan berbuat janji. Artinya kalau kita belum sungguh-sungguh memiliki niat untuk menepati janji tersebut maka jangan berjanji. Intinya di sini adalah niat. 

Kumpulkan dahulu niat setelah itu baru berjanji. Kemudian, kita juga sebaiknya jangan terlalu berjanji terhadap hal-hal yang sebenarnya sangat berat untuk ditepati. 

Apabila kita terus berjanji dan tidak pernah menepatinya maka bagi kita, sebuah perjanjian entah itu dengan orang lain atau dengan diri kita sendiri tidak bermakna lagi. Janji kehilangan maknanya. Maka mari kita membuat hidup kita bermakna salah satunya dengan menepati janji-janji kecil kehidupan kita.
Read More

Berpikir Cinta Membuat Waras Tapi Gila


Selalu saja idealisme menanggalkan manusia yang terkadang rapuh tersebut.  Namun dengan berbagai suara yang dirasakan oleh batin sendiri, apakah tidak pernah ada intervensi dari manusia dalam berpikir? Selalu saja ambigu, apakah mungkin perasaan batin mendahuli pikiran, ataukah sebaliknya, pikiran yang mempengaruhi suara batin?

Tidak begitu dapat tergambar jelas, tentang sesuatu yang manusia ingini sebelumnya, apakah memang dari banyak keinginan tersebut hanyalah kemenarikan energi yang ilusif? Terkadang hidup memang terbaui, dan tentang cinta dari mana datangnya, mungkinkah dari mata turun ke hati yang sudah banyak digembor-gemborkan orang mendefinisikan cinta?

Seperti tidak tergambar jelas dalam angan manusia. Mobil-mobil berlarian seperti tidak akan mencapai tujuan. Tetapi dengan makna dalam berbagai tujuan itu, apakah memang ia "cinta" layak dituju oleh setiap manusia sebagai titik tujuannya?

Sore yang dirasa begitu nikmat, mungkin dengan kata ideal yang benar kita idealkan itu, menyandarkan diri pada bentuk ideal haruslah benar-benar menjadi sandaran dalam bersikap, untuk menanggapi berbagai yang "ideal" tersebut---- berdamai didalam imajinasi sebagai manusia itu sendiri memandang hidup dan narasi absurd cinta mereka.


"Biarlah ini menjadi tanda, dalam kemalangan, memang yang terkadang menjadi siksa sebelum manusia masuk neraka paling jahanam disana. Ia harus menerima bahwa; ia selalu disiksa oleh pikirannya sendiri dalam menjadi manusia, dan celakanya dasar dari cinta tersebut, rasanya hanya orang-orang yang mendramatisir kisahlah yang membuat cinta itu dari mata lalu turun ke hari, padahal cinta dari pikiran, hati hanyalah dukungan bagi kendali pikiran".

Tentang mata memang tidak pernah bohong, ia hanyalah obyek pengelihatan yang tidak pernah selsai melihat keindahan termasuk bagian dari obyek cinta itu sendiri. Tetapi mungkinkah apa yang dinamakan neraka itu ada didalam realitasnya sendiri bahwa; neraka adalah cara berpikirnya yang menyiksa hidupnya? Dimana pikiran itu tidak pernah berhenti dan membuat kegaduhan jiwa yang tidak mereka ingini? Termasuk mungkin kata "cinta" dalam hidup manusia?

Malam yang terkadang sangat melelahkan, mengapa dengan ide-ide kebaruan dalam hening tanpa pikiran itu terus saja hilang ketika badan manusia mulai lelah? Namun dalam kelelahan itu, mungkinkah hanya akan menghambat bagai mana daya pikir itu berpikir? Menjadi terlalu berpikir, apakah manusia dapat disebut waras pada akhirnya, yang sebenarnya mereka tersiksa oleh jalan pikirannya sendiri termasuk memandang cinta yang sebenarnya lahir dari pikiran?

"Rasanya dalam bentuk apapun, cinta menyedot energi didalamnya bukan saja butuh sesuatu yang harus diumpan balik. Namun juga kerelaan dalam memberi sesuatu, karena cinta sendiri apapun bentuknya yakni; untuk sebuah kerelaan! Sama halnya menulis, proses yang panjang, menggali ide, mengetik buah-buah ide, mengedit tulisan, belum ketika mereka harus mencetak sendiri tulisannya dengan biaya sendiri, dengan kata "cinta" saja memang  tidak mudah. Tetapi kepuasan karena suduh mewujudkan cinta itu sendiri dengan rasa bangga dan kebahagiaan, tidak laku sebagai tulisan yang bernilai pun tidak apa-apa. Mungkin sejatinya cinta adalah mewujudkan apa yang menjadi kehendak untuk dicintainya tersebut, bahan dari umpan baliknya sendiri".  

Memang tidak ada hari yang tidak dalam pikiran manusia begitupun dengan hasilnya menjalani hari-hari yang dijalaninya sebagai wujud cintanya dalam kehidupan ini. Semua hari dalam waktunya adalah pikiran-pikiran itu bagi manusia. Mungkin karena manusia mempunyai pikiran, dan ia harus terus berpikir apa yang perlu dipikir dalam hidupnya untuk dapat terujud dalam kenyataan dari kehidupannya? Harus-kah manusia itu selalu berpikir dan berpikir diwaktu kehidupannya? Dan bagimana meletakan pikiran itu selain tertidur menghentikannya? Rasanya tidur adalah meditasi yang dilakukan manusia paling efektif untuk mencari ketenangan dalam hidup manusia itu sendiri; mencari ketenangannya.

Menjadi mausia "Prio" memang sedikit ingin bertanya lagi pada dirinya sendiri, mengapa selalu saja ada hari dimana; jalan pikirannya sama sekali tidak membuat ia nyaman menjalani harinya? Laptop, buku, dan air putih, ditambah buah Salak yang ada didepannya, apakah itu dapat menenggelamkan pikirannya untuk lebih bersantai malam ini dengan saraf-saraf otaknya yang tegang untuk dijadikan sebuah karya untuk kehidupannya?

Pelarian sebagai bentuk pelipur diri memang terkesan atau dikesankan menjadi penting bagi setiap manusia. Berbagai pelarian itu mungkinkah benar bahwa: "Prio lari untuk selalu memperbaiki diri atau justru malah semakin memprosokan diri pada jurang lubang penderitaan yang terdalam"?

Dan tentang berbagai jenis pelarian itu, apakah ada pelarian yang benar-benar membangun hidup manusia? Ketika patah, ia bukan harus tumbuh, tetapi harus terus tersirami oleh air supaya ranting-ranting dalam bangunan pohon yang kekeringan ini dapat berdaun kembali. Gambarannya; "Manusia adalah pohon bagi dirinya sendiri yang perlu tumbuh sehat dan waras menanggapi semua bentuk ranting dalam pikirannya yang semakin hari semakin tumbuh cabang-cabang itu untuk menemukan ruangnya" .

Memang Prio sendiri juga masih bingung dalam menjadi manusia, mengapa ia selalu dihadapkan pada kondisi hidup yang sangat paradoks sebagai manusia? Terkadang didalam lamunannya sendiri, ia seperti tengah menjadi gila, ia akan selalu gila memandang hidupnya sendiri. Oleh karena itu hanya orang yang sama-sama gila yang mau berteman dengan orang gila seperti Prio dalam memandang hidup yang sangat kontradiktif.

Untuk itu mendapatkan teman yang gila saja susah bagi Prio, apa lagi mendapat pacar "wanita" yang sama "gila" sehingga  dapat dipacari bahkan dinikahi. Mungkinkah orang yang "waras" tapi gila akan bertemu dengan karakter orang demikian? Memandang hidupnya yang gila dalam kewarasaanya tersebut?

Rokok yang ingin dihisap oleh Prio, atau dengan Bir disana yang membuat sarafnya agak sedikit terbang bersama lamunannya, apakah itu merupakan pelarian yang baik untuk dijalankan menelanjangi hari-hari? Karena untuk membeli Bir atau Rokok sendiri begitu mahal kini, dimana untuk dapat membeli semua itu, upah satu hari bekerja harus habis tidak tersisa, bahkan untuk memulihkan tenaga dengan makananya yang harus mereka beli merekapun tidak punya nilai uang lebih dari kerjanya tersebut.

Tidak ada kedamaian seperti menikmati tidur pulas, namun bagimana ketika tidur itu sudah tidak lagi dapat dinikmati karena bayang-bayang realitas sendiri menghantuinya? Kekhawatiran dan kegelisahan pada sesuatu yang belum terjadi dan hanya ada ditatar pikiran, untuk menjadi waras memang tidak mudah, menjadi gila apalagi, justru semakin tidak mudah karena lingkungan sosial akan mengisolasinya.

Sesulit apapun Prio menjadi dirinya sendiri, ketikan-ketikan suara hatinya yang harus terketik pada akhirnya menjadi bentuk terapi, apakah ini derita bagi orang-orang yang berada dalam kesendirian dan cenderung menemukan dirinya dengan menulis? Ungkapan yang abstrak, mental yang begitu saja dapat berubah-ubah, terkdang ia dapat berbahagia, tetapi kekalutan pikirannya, yang justru dirinya terperosok pada lubang pikiran yang membuat derita sebagai dirinya.

Prio menyadari, mendambakan suatu kesempurnaan dalam hidup memang konyol, bau dupa saja yang sedikit dapat membuat terapi, bila dibakar, ia bukan saja akan membuat dada sesak bila terus dihirup, tetapi hidung untuk menghirup itu, rasanya tinggal setengah, karena setengahnya  dari hidung adalah asap yang terbakar dengan tajam menusuk paru-paru yang bersih tanpa asap rokok. Sebab merokok diabad ke-21 bukan masalah kesehatan yang diperkaran Prio, hanya saja harga yang mahal membuat rokok haruslah menjadi barang sampah yang tidak patut untuk dibeli.

Mata yang masih sayup dirasakan Prio pagi ini, terus saja ia menulis untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik dan semakin baik lagi untuk bereaksi terhadap hidupnya. Apakah benar seorang penulis itu rawan dengan menidap gangguan mental? Ataukah mungkin gangguan mental itu sudah di-idap penulis sebelum ia menulis? Dan gangguan mental itu menjadi ringan bebannya ketika ia mulai menulis?

Tetapi kecenderungan lari terhadap menulis, apakah itu juga suatu kehendak alamiah manusia untuk mengobati rasa ketidakwarasaanya sendiri dalam kejiwaannya? Mungkinkah kelainan pada jiwa yang membuat gila sendiri dialami semua manusia yang katanya waras itu dalam aktivitas sehari-hari mereka?

Haruskah hidup semua manusia digantungkan dengan keberadaan yang melampaui dirinya untuk berpasrah bahwa; "hidup dalam apapun kondisinya harus tetap dinikmati dan dijalani"? Apakah dengan konsep kenikmatan yang tergambar jelas dirasakan orang lain, mungkinkah itu benar-benar idealnya kebahagiaan terhadap diri kita sendiri? Prio terus bertanya dalam sesuguhan ketikannya di pagi yang menyebalkan ini, hari libur yang justru tidak bersahabat,  ia "Prio" ingin terus melajutkan narasi teks novelnya yang banyak ia kisahkan dari kontradiksi hidup dirinya sendiri.

Musik instrumental yang harus dimainkan, pagi buta yang cerah Prio sudah didepan laptopnya, karena tiada hiburan lagi, ia akan kemana saat pagi? Dengan siapa? aAakah ada yang ingin berteman dengannya? Mengapa wanita itu, ia selalu dapat tersenyum menyembunyikan kegundahan hati dan hidupnnya? Walapun hanya diimajinasinya saja, mungkin benar keindahan wanita adalah seni dari mahakarya tuhan, dimana mereka tidak ada habis-habisnya untuk terus ditafsirkan.

Wanita yang pernah bertanya kepada Prio yakni Rinasih, suka membaca? Oh, suka penulis juga? Orang seperti kamu itu harusnya suka dengan film, Prio hanya menjawab singkat: "ia hanya suka dengan film spiritualis dan filosofis, rasanya hanya kebijaksanaan dan kerohaniaan yang dapat mengubah hidup manusia, mendefinisikan hiburan pun tetap harus ada nilainya.

Dan semua pertanyan "wanita" yang dilontarkan pada pria, apakah sebuah basa-basi yang tidak terhindarkan dan tidak usah ditangapi secara serius untuk lebih mengenal orang lain? Dan tentang sisi gelap, haruslah ditampilkan sebagai sisi gelap yang berengsek, hidup ini memang brengsek dan kita dipaksa untuk tetap menikmatinya! Brengsek! Apakah ini yang dinamakan hidup waras tapi gila? Sekali lagi, Brengsek sekali hidup ini?

Nyatanya dalam cinta yang harus termanifestasi dalam kehidupan ini, sebrengsek-brengseknya cinta tetap saja ia adalah sebuah makna yang harus dikerjar karena kehendak alamiah manusia untuk melanjtkan hidup menemukan cintanya. Namun dengan cinta sesama manusia, biarlah cinta terhadap pengetahuan yang diimplementasikan dalam bentuk karya tulisan Prio sendiri menjadi wujud cinta tersebut.

Cinta terhadap laki-laki dan perempuan akhirnya terwujudkan dalam kehadiaran anak manusia akan seperti apa kisah dari perwujudan cinta ini untuk prio biarlah menjadi misteri. Terkadang cinta antara lawan jenis sendiri hanyalah gairah insting dari kehendak untuk berkembang biak manusia meneruskan spesies. Cinta terhadap wanita memanglah wajar, dan itu tidak pernah salah walapun tidak terungkapkan dengan baik.

Rinasih yang tetap mendingin apalagi dengan prio, ia hanyalah seorang yang canggung ketika berhadapan dengan orang-orang yang masih terlihat asing oleh dirinya. Karena definisi keasingan bagi manusia yakni; walaupun setiap hari melihat bahkan berada ditempat yang sama dengan orang lain, tidak ada hasrat untuk kenal lebih dekat, bagi prio semua orang disekitarnya merupakan orang asing. Dan yang lebih terasing sendiri bagi prio, ia bukanlah orang yang dapat mendahuli percakapan, karena itu, berada didalam lingkungan yang cuek, ia akan terus menjadi orang yang terasing.

Dan kata cinta bagi dirinya pun tetap pada keasingan itu, bahkan rinasih sebagai wanita yang prio kagumi, iapun tetap orang asing yang kebetulan dihasrati secara instingtif menjadi parter dalam menjadi manusia yang berkembang biak untuk menunaikan hasrat sebagai manusia yang menginginkan melestarikan spesiesnya.

Kata cinta mungkin seperti; "agama yang candu bagi masyarakat ungkapan Karl Marx". Mungkin cinta itu memang harus terkenali, tidak mengambil jarak untuk meruntuhkan tembok social mereka masing-masing dalam menyambut cinta. Kemisteriusan dari Rinasih tentang bagaimana ia membaca cinta, membaca lawan jenis dan membaca orang-orang yang sebelumnya ia sudah bersimpati kepadanya.

Mungkin sesuatu itu yang prio terus bertanya pada dirinya sendiri mencoba untuk terus mengamati rinasih, meskipun cinta terkadang sulit ditebak akan siapa yang pantas mendapatkannya, rinasih mungkin adalah orang yang selektif itu. Sebab banyak juga orang yang tentu secara insting menginginkannya sebagai partner dalam berkembang biak. Prio rasa dirinya yang tidak berani untuk menggoda rinasih, mengajaknya hanya sebatas mengobrol santai, tetapi rinasih juga bukan seseorang yang polos tanpa pengetahuan secara instingtif mana pria yang benar-benar layak untuk pendamping hidupnya.

Rinasih adalah orang yang setia, ketika ia sudah mencintai seseorang, mungkin titik dari cintanya itu adalah kesetiaanya terhadap cintanya tersebut. Maka tidak heran jika dirinya menjadi pemikir cinta, supaya dengan kekehawatiran yang melakat pada dirinya tersebut tidak menjadi kenyataan pahit yang harus berulang kembali diasakan oleh hidupnya.

Tetapi secara sensitifitas dan insting sebagai manusia, wanita lebih unggul dari pria. Rinasih mempunyai keunggulan didalam instingnya membaca pria. Ia akan tahu mana laki-laki yang benar baik untuk dirinya, meskipun ia harus berpikir bagaimana ketika ada pria yang menginginkannya, ia harus secara elegent dalam menolaknya. Tentu prio juga pernah ditolak secara elegant, menonton film di bisokop mungkin terlalu murah untuk saling mengenal, namun sudahlah, kepercayaan kepada orang yang baru beberapa hari kenal memang demikain, sangat mahal bagi normatifnya orang Indonesia.

Karena orang Indonesia sendiri pada budaya romansanya, seperti ada kesangsian jika memang mereka tidak ada kemenarikan sebelumnya. Mungkin prio memang tidak menarik untuk rinasih, tetapi ketidakmenarikan itu hanya karena rinasih belum mengenal siapa sebenarnya prio, dan terburu-buru dalam sangsi menilai orang dari luar, dan enggan mengenal diri orang lain lebih dalam. Namun insting seperti tidak bohong, Rinasih bagi prio memang orang yang menarik.

Sebaliknya prio bagi rinasih apakah bisa menjadi menarik? Tentu, prio dengan kepribadiaannya yang unik tersebut, pria pendiam yang tidak banyak bertingkah, sesekali membuat rinasih gemes memandang kepribadiaanya yang absurd, menarik tidak menarik tidak ada soal, prio hanya ingin menjadi dirinya sendiri, meskipun kelekatan kekaguman kepada rinasih terus bergema.

Prio tahu rinasih sendiri adalah seoraang pemarah dalam keceriaannya, pandai memaafkan atau tidak prio tidak memperdulikan itu. Jika memang ia orang yang murni dalam memandang orang lain, pasti tidak perlu seseorang yang ingin hidup bersamanya menunjukan terlalu berlebihan cinta atau perasaan padanya. Tetap akan menjadi kesia-siaan belaka ketika; apa artinya manusia berjuang mendapatkan kata "iya" dari lawan jenis untuk hidup bersama tetapi sebelumnya lawan jenis itu memang tidak punya ketertarikan sedikitpun.

Biarlah ketertarikan itu muncul terlebih dahulu ketika memandang manusia dengan sisi orisinalitasnya. Prio memang ingin menjadi orisisnil memandang cinta. Perkara rinasih juga tertarik dengan konsep kepribadian prio, suatu saat nanti ketika saatnya ada sesuatu, pasti dua hati ketertarikan tersebut akan bertemu dijalannya. Menebak memang sulit, berjuang tanpa restupun sama tidak ada artinya. Narasi cinta, wanita dan persamaan candu seperti agama dalam romansa, ini menjadi bahan cerita, akan terus menjadi cerita yang layak sebagai bahan pemikiran kita semua. Karena berpikir cinta membuat manusia menjadi waras tetapi terkadang gila.


Toto Priyono
Read More

Mencoba Berlatih Menjadi Miskin


Aliran stoicism mengajariku dalam banyak hal, dan yang terpenting, aliran ini mengajarkan untuk bersyukur dan sekaligus membuat menjadi tahan banting.

Salah satu filsuf yang cukup terkenal dari aliran ini adalah Seneca, seneca memiliki cara unik untuk melatih mental yang tahan banting, yaitu mencoba merasakan hidup miskin.

Caranya bagaimana? untuk berlatih menjadi miskin sebenarnya sesimpel menjadi orang miskin selama beberapa hari, kira-kira 4-7 hari. sisihkan waktu segitu atau mungkin lebih untuk kamu berperilaku seperti orang miskin.

Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan;

1. Pakai baju yang paling jelek yang kamu punya.

2. Batasi pengeluaran.

3. Tinggal diluar rumah.

4. Simpan barang-barang mewah.

5. Coba hal lain yang orang miskin lakukan.

Ketika itu, saat sedang di dalam proses, kamu harus tanya kepada dirimu sendiri seperti ini, "apakah ini kondisi yang aku takutkan?".

Di hari pertama atau mungkin sampai hari kedua pastinya ini akan menjadi ujian yang teramat berat untukmu, namun apabila seluruh rangkaiannya sudah selesai, bisa dijamin saat kamu kembali kepada kebiasaan-kebiasaan yang kamu lakukan, kamu akan banyak menyadari dan mensyukuri segala hal yang selama ini kamu abaikan. seperti misal punya rumah, bisa makan enak, punya laptop, punya handphone. Sementara itu banyak orang di luar sana yang menjalani hidup sama persis seperti yang telah kamu coba rasakan beberapa hari kemarin.

Setelah mencoba hidup miskin, saat mencoba makan di restoran yang harganya lebih dari 20 ribu, makanan itu pasti akan menjadi makanan terenak yang pernah kamu rasakan. 

dan dari sini, yang harus kamu sadari adalah kebahagiaan, kenikmatan, serta perasaan senang ternyata bukan muncul dari mahal atau enaknya suatu makanan, bukan dari itu. tetapi dari mindset, dan dari bagaimana kamu mensyukuri hal yang telah kamu punya.

Dan sebenarnya kamu tidak harus mempraktekan seluruh cara yang sudah disebutkan tadi, berlatih menjadi miskin sebenarnya dapat dilakukan cuma dengan salah satu cara diatas saja. supaya kamu sadar bahwa apa yang kamu miliki sekarang merupakan kemewahan, itu yang penting.

Ini supaya kamu dapat bersyukur, dan dari sana, saat kamu sudah bisa survive kemiskinan, mulai dari merasakan tidak punya rumah, tidak bisa makan enak, dan lain sebagainya. yang mungkin bisa dikatakan hal terburuk yang pernah terjadi terhadapmu.

Ketika kamu sudah survive dan mulai bersyukur, maka semua keluhan yang mungkin secara tidak sadar kamu lontarkan akan jadi tidak berarti lagi.

Segala ketakutan yang kita alami saat mengambil resiko untuk membuat keputusan besar akan menjadi tidak berarti juga. karena kamu sudah bisa mensyukuri hal-hal sepele yang pernah kamu alami.

If you would not have a man flinch when the crisis comes, train him before it comes-seneca

Berlatihlah untuk menjadi tangguh dan memiliki mental tahan banting, sekaligus belajarlah untuk lebih banyak bersyukur, dan tidak takut apapun yang terjadi pada hidup kita sekarang.


Dimas Almasih
Read More

Memahami Derita Jadi Orang Jelek


"Dengan bertambahnya pengetahuanku, aku semakin sadar bahwa aku adalah mahluk yang terbuang. Aku memelihara harapan, memang, tapi harapan itu sirna manakala aku menatap pantulan ragaku di permukaan air, atau melihat bayang-bayangku di bawah sinar rembulan, sungguhpun yang ada hanyalah gambaran buram dan temaram."

(Frankenstein, Marry Shelley: 179)

Di dunia ini harus kita akui, kehidupan tidak selalu memberikan keadilan dalam versi makhluk di dalamnya. Sebagaimana diciptakan orang-orang dengan fisik sempurna, maka diciptakan pula mahluk lawan dari kesempurnaan itu sendiri.


Akal yang bijak tentu menolak pernyataan ini, karena menurutnya baik dan buruknya seseorang tidak dapat dinilai dari wajah. Tidak salah berpikir demikian, tetapi jangan tutup mata bahwa penilaian terhadap fisik masih banyak terjadi.

Dua ratus tahun yang lalu seorang perempuan asal London pernah menulis kisah yang mewakili penderitaan mahluk terjelek di dunia.

Marry Shelley dalam karya fenomenalnya berjudul Frankeinsten: The Modern Prometheus (1818) telah melahirkan sosok monster mengerikan yang dikenang oleh semua orang. Monster yang tak bernama ini bahkan lebih terkenal dibandingkan nama sang penciptanya, Victor Frankeinsten.

Novel ini bercerita tentang ilmuwan Swiss yang berambisi menciptakan manusia buatannya sendiri. Dengan menyatukan potongan-potongan tubuh mayat, kemudian ia menghidupkan makhluk itu. Nahasnya, ia malah menciptakan sosok monster berwajah menakutkan, yang ia sendiri bahkan tak tahan untuk melihatnya.

Monster malang ini kemudian mengembara, mempelajari dunia manusia, memahami bahasa, dan cinta. Satu-satunya hal yang ingin ia miliki adalah diterima keberadaannya dalam lingkungan manusia.

Sayangnya, justru penolakan, hinaan, dan penderitaanlah yang selalu ia dapatkan. Oleh sebab itu, ia pun merencanakan pembalasan dendam pada sang penciptanya.

"Benarkah manusia berkuasa, berbudi, dan hebat, sekaligus sangat bengis dan keji? Terkadang manusia berbuat dzalim, tetapi di lain waktu mereka bersikap sangat mulia dan luhur." (Hal. 162)

Memahami 'iblis' sapaan yang sering diujarkan oleh Victor kepada monster ciptaannya sungguh sangat menyiksa pembacanya. Di satu sisi kita akan membenci sosok ini karena melakukan pembunuhan keji pada keluarga sang penciptanya, di sisi lain rasa sedih, iba, dan sakit pun muncul sewaktu ia membagikan pengalaman hidupnya di tengah manusia.

Jadi orang jelek pasti akan menderita. Premis yang dibawa oleh penulis begitu sederhana dan akan selalu relevan sampai kapanpun. Tampaknya Marry masih terlalu halus mewakilkan sosok jelek sebagai seorang monster.

Sebetulnya dua ratus tahun yang lalu, ia sudah memahami problematika yang akan selalu ada pada diri manusia, yaitu mengenai rasa tidak aman (insecure). Manusia akan selalu takut berhadapan dengan kelemahan dan kekurangannya di hadapan orang lain.

Insecurity terjadi saat seseorang merasa malu, tidak mampu, dan penuh kekurangan. Semakin seseorang merasa insecure, maka ia cenderung akan hidup dalam ketakutan. 

Salah satu alasan seseorang merasa tidak aman yaitu karena kurangnya percaya diri akibat pengalaman buruk di masa lalu. Rasa tidak aman ini bila dibiarkan akan membuat seseorang menjadi iri dan cemburu pada orang lain, dan berubah menjadi pembenci. Bukankah monster dalam kisah tersebut memiliki kondisi yang sama?

Socrates dalam dialognya dengan Euthyphro (The Last Days of Socrates-Plato) berkata bahwa rasa malu selalu diikuti rasa takut, bukan sebaliknya. Seperti halnya orang yang malu pada fisiknya yang buruk rupa, maka ia akan takut dihina dan disakiti lantaran fisik pula.

Dunia memang sudah lama memperlakukan orang-orang jelek dengan tidak adil. Jelek dalam artian fisik, maupun versi tidak ideal yang manusia agung-agungkan. Kita terlalu hipokrit bila mengatakan standar jelek atau bagus itu relatif.

Bila memang relatif, tidak mungkin adanya dongeng 'si cantik dan si buruk rupa' , tidak mungkin munculnya produk-produk kecantikkan dengan embel-embel supaya kita tidak tampak tua dan jelek, atau layanan mengubah fisik lewat operasi.

Orang jelek juga kerap mendapatkan diskriminasi. Contoh kecilnya saat seorang jelek melakukan kejahatan, maka mereka akan mendapatkan cercaan yang kasar dan sadis.

Sebaliknya, apabila yang melakukan kejahatan adalah sosok tampan atau cantik, maka orang-orang akan menyayangkan kejadian itu. Padahal sama-sama kriminal lho.

Menjadi orang jelek artinya siap menderita. Satu-satunya agar tidak menderita yaitu mengubah penampilan sebaik mungkin atau menghapus standar yang orang lain bangun.

Seandainya di dunia ini orang-orang puas akan fisiknya sendiri, tanpa perlu insecure dan menganut standar yang ada, maka niscaya akan banyak perusahaan kosmetik bangkrut.

Tidak akan ada kisah orang-orang berselingkuh karena wajah pasangannya yang jelek, tidak akan ada sosok putri-putri negeri dongeng yang digambarkan oleh wajah-wajah yang serupa, dan tidak akan ada istilah orang jelek di dunia.

Andaikan juga Marry hidup di abad sekarang ini, mungkin ia tidak akan pernah menulis kisah itu. Dia pasti berpikir bahwa si monster hanya perlu mencuri uang sebanyak-banyaknya, lalu mencari dokter bedah plastik paling ahli untuk menambal jahitan di muka sang monster dan bimsalabim berubahlah jadi tampan.

Masalahnya selesai, bukan?

Eki Saputra
Read More