Jangan Rusak Budaya dengan Politisasi Agama



Belakangan ini di dunia maya sedang ramai memperbincangkan ceramah Khalid Basalamah. Menurutnya wayang haram dan lebih baik dimusnahkan. 

Begitu mudahnya seseorang tokoh agama atau orang mengklaim dirinya paham agama, menyatakan produk budaya haram atau halal. 

Apakah keris lalu dibilang musrik? Mari kita belajar sejarah. Sudahkah tepat kan pernyataan tersebut? Apa salahnya produk budaya tersebut sampai harus dimusnahkan? Apakah masyarakat saat ini memberhalakan wayang?

Semakin kesini, terkadang semakin membuat kita tidak habis pikir dengan maraknya politisasi agama di tengah masyarakat. Kenapa selalu tradisi atau kearifan lokal yang dipersoalkan? Beberapa waktu lalu sesaji yang dipersoalkan. 

Seorang pemuda viral karena menendang sesaji di puncang gunung Semeru. Karena sesaji itulah yang membuat Allah murka. Dari mana dia bisa tahu? Jika terjadi letusan gunung, apakah hal tersebut bagian dari murkanya Allah? Lalu, sesaji di sekitar gunung Semeru, bukahkah hal yang wajar karena dilakukan oleh masyarakat Tengger, yang beragama Hindu?

Agama memang penting. Tapi juga harus diposisikan secara benar. Jika wayang diharamkan sampai harus dimusnahkan lantaran suka atau tidak suka, apakah masuk akal? Haramnya sesuatu hal itu harus ada yang mendasarinya. 

Jika wayang sudah tidak dibenarkan, kenapa Wali Songo justru menggunakannya untuk media dakwah? Dan karena media wayang inilah, masyarakat ketika itu bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah.

Kenapa politisasi agama ini begitu marak? Memang tidak bisa dilepaskan dengan maraknya propaganda radikalisme di dunia maya. Kelompok ini terus melontarkan provokasi-provokasi dengan berbagai cara. Bibit kebencian terus dimunculkan. Tidak hanya ditujukan kepada kelompok yang dianggap berseberangan, kelompok yang berbeda pendapat, beda keyakinan, atau yang lain seringkali juga menjadi korban provokasi kelompok ini. Bahkan tak jarang mereka juga melontarkan ajakan untuk melakukan tindakan intoleransi di media sosial.

Hal semacam ini harus dimaknai sebagai ancaman. Bibit radikalisme terus berkembang dengan berbagai macam bentuk. Apa saja dianggap salah, dianggap sesat, bahkan kafir. Bahkan wayang yang menjadi produk budaya pun, juga ikut-ikut disalahkan. Nah, sebagai generasi yang cerdas, kita harus bisa memilah milah mana informasi yang benar, mana ayat yang sesuai dengan konteksnya, agar kita tidak mudah terprovokasi.

Dalam ceramahnya, Basalamah menyebut bahwa slam perlu dijadikan tradisi dan budaya, bukan mengislamkan budaya. Pertanyaannya kemudian, bukankah Islam adalah nilai yang akan selalu relevan dan sesuai dengan budaya dan tradisi apapun, selama dalam tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan menimbulkan kemudharatan? Jadi, dalam memahami suatu hal jangan terbalik-balik. Jika budaya dipersoalkan, bukankah pakaian ini bagian dari produk budaya? Lalu, kenapa pakaian tidak dipersoalkan?

Sekali lagi, mari menjadi pribadi yang cerdas. Sebelumnya, menyanyikan Indonesia dianggap haram. Apa lagi ini? Jika tidak suka dengan pemerintah, tidak usah mencari kesalahan. Tidak usah membangun kebencian ini itu, sampai lagu kebangsaan diharamkan. Hormat bendera haram. Politisasi agama hanya akan menyuburkan kebencian dalam diri, dan menularkan kebencian tersebut  ke masyarakat. Apakah sikap ini dianjurkan dalam Islam? Tentu tidak. Karena Islam agama yang mengedepankan nilai-nilai kebaikan untuk semua orang. Salam introspeksi dan toleransi.

Ahmad Ricky Perdana



EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.