7 Filosofi Hidup dari Jepang, agar Hidup Lebih Bermakna




Berbicara tentang negara jepang tidak ada habisnya. Karena Jepang merupakan negara dengan kemajuan teknologi paling berkembang pesat di dunia. Sudah banyak karya-karya teknologi dan mesin-mesin canggih yang tercipta dan digunakan dalam keseharian masyarakatnya.

Tak heran banyak orang yang ingin pergi ke negara sakura, mulai dari hanya sekadar berwisata, melanjutkan Study, menetap atau tinggal dan bekerja di jepang.

Selain karya teknologinya, orang-orang Jepang juga memiliki budaya keseharian yang sampai sekarang masih dipegang erat dan dilakukan setiap harinya. Budaya tingkah laku tersebut dapat dikatakan juga sebagai sebuah filosofi hidup yang sangat baik untuk diterapkan.

Berikut ini adalah beberapa Filosofi Hidup yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita:

1. Ikigai yaitu Alasan untuk Hidup

Konsep "ikigai" memiliki definisi dan mempraktikkan tujuan hidup seseorang. Sederhananya adalah, pasti ada alasan mengapa kita bangun di pagi hari?

Filosofi Ikagi ini harus muncul dari keinginan diri sendiri dan menjadi sesuatu yang disukai dan kuasai.

Orang Jepang percaya bahwa setiap orang memiliki Ikigai mereka sendiri dan menganggapnya sebagai perjalanan penting untuk membawa kepuasan dan makna hidup.

Sehingga cobalah mencari tujuan hidup kita. Karena dengan adanya tujuan hidup kita membuat hari-hari kita bermakna dan terarah. Layaknya kompas yang memberi petunjuk di saat kita tersesat dalam kehidupan yang fana ini.

2. Oubaitori yaitu Jangan Membandingkan Diri

Filosofi "oubaitori" memiliki arti untuk jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bersyukurlah apa yang kamu miliki dan yang telah kamu capai.

Filosofi ini tertuju dari empat karakter kanji, yaitu buah ceri, plum, persik, dan aprikot yang melambangkan perbedaan cara berkembangnya setiap pohon. Sehingga ini memberikan kita pelajaran makna kehidupan bahwa setiap individu memiliki keistimewaan masing masing yang mungkin tidak dimiliki individu lain.

3. Kaizen yaitu  Terus-menerus Berkembang

Kaizen berarti perbaikan terus-menerus atau perubahan menjadi lebih baik dan merupakan filosofi pribadi dan bisnis-karir yang berusaha untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas di semua tingkat hidup.

Dengan memiliki mindset ini, maka kita termotivasi terus menerus untuk melakukan perbaikan terus-menerus secara bertahap dan membuat perubahan kecil menjadi lebih baik dan menghargai prosesnya.

4. Wabi Sabi yaitu menerima ketidaksempurnaan

Filosofi wabi sabi adalah filosofi hidup orang Jepang dengan cara menerima ketidaksempurnaan dan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Wabi Sabi mendorong untuk lebih berfokus pada keberkahan yang dimiliki dibanding berharap kepada hal yang tidak kita terima.

Selain itu, Wabi Sabi sangat cocok diterapkan pada masyarakat modern saat ini yang terus menerus mengejar kesempurnaan. Bisa kita lihat, manusia mengejar berbagai aspek yang pada akhirnya menyebabkan depresi, cemas, dan stres.

Filosofi Jepang ini bisa juga digunakan untuk mengurangi gaya hidup yang sangat konsumtif dan selalu mengikuti tren yang tidak ada habisnya.

5. Kintsugi yaitu Seni Memperbaiki pecahan keramik

Seni kintsugi memiliki arti perjalanan emas dan kintsukuroi, mengacu pada perbaikan emas. Filosofi ini sering dikaitkan dengan perbaikan tembikar yang rusak dengan vernis emas atau perak.

Sehingga Kintsugi memberikan pelajaran hidup bahwa perjalanan emas, membantu dan mengubah perspektif kita merangkul kekurangan kita sendiri sebagai hiasan yang membuat diri lebih ekstetik dan berharga.

6. Gaman yaitu Menjaga Kehormatan, Meski Dalam Tekanan

Filosofi Gaman memiliki arti bahwa kesabaran, ketekunan, dan toleransi. Bila kita menggunakan pola pikir filosofi gaman, menjadikan kita akan bertahan dalam situasi sulit dengan pengendalian diri dan martabat.

Sementara itu, dalam ajaran Buddhis Zen, Gaman adalah strategi untuk tetap ulet dan sabar selama masa-masa sulit dan merupakan ciri kematangan emosi.

7. Mono no aware yaitu  Empati

Secara harfiah, mono no aware berarti "kesedihan," tetapi juga diterjemahkan sebagai memiliki empati terhadap hal-hal dan ephemera. Dengan memiiliki filosofi ini, membuat kita memiliki sikap empati terhadap masalah-masalah di sekitar lingkungan kita.

Dengan begitu menjadikan diri ini bermakna karena memberi solusi atas masalah-masalah tersebut. Juga memiliki kesadaran untuk terus berempati dan bermanfaat untuk sesama.

Juwinda Ningrum



EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.