Pakai Jasa Pawang Hujan itu Termasuk Sirik, Nggak?

Pawang hujan sedang ritual © Budi Prast


“Mas, pakai jasa pawang hujan itu menurutmu sirik, nggak?” Laki-laki yang bertanya itu jelas bukan sembarangan. Kala itu, dia sedang mempersiapkan hajatan pernikahan di panggung terbuka.

Jujur saja, saya berat sekali menjawab pertanyaan itu. Karena makin tua, saya makin sadar, tidak semua hal bisa saya omongkan apalagi dalam ranah agama, tema yang tidak saya kuasai. Tapi pertanyaan ini punya implikasi besar pada keputusannya. Saya merasa keliru jika tidak membantunya membuat keputusan yang tepat.

“Biasanya kalau kamu sakit, apa yang kamu lakukan?” Saya mencoba bertanya dari sisi yang lain.

“Kalau sakit biasa saja yang kadang cuma kerokan atau minum obat, Mas. Kalau parah ya pergi ke dokter.”

“Oke. Kamu sebetulnya paham gak logika obat yang kamu minum. Berisi zat apa saja, dan bagaimana zat-zat itu kelak bekerja di tubuhmu sehingga bisa menangkal sakitmu.”

“Ya nggak, Mas.”

“Berarti kamu bermodal percaya saja.”

“Dan modal pengalaman. Karena jika keluargaku minum obat itu, maka mereka sembuh.”

“Oke. Modal percaya dan pengalaman.”

“Kamu paham gak cara kerja dokter ketika ngobati kamu? Yang mumet kepalamu tapi yang disuntik pantatmu. Atau obat-obat yang dia kasih.”

“Nggak paham.”

“Tapi percaya?”

“Percaya.”

“Kenapa?”

“Karena dia sekolah kedokteran dan ya memang dia dianggap bisa menyembuhkan.”

“Oke. Kamu pasti gak paham cara kerja pawang hujan kan?”

“Gak paham.”

“Sama.”

“Lho kok dadi ndagel ngene, Mas…”

“Bentar, mau tak lanjutin… Tapi kamu punya pengalaman orang-orang di sekitarmu pakai jasa pawang hujan kan?”

“Punya.”

“Berhasil menghalau hujan?”

“Berhasil.”

“Apa bedanya dengan obat dan dokter? Kan kamu sama-sama gak paham, dan sama-sama berdasarkan referensi keberhasilan?”

Laki-laki itu diam. Mikir. Manggut-manggut. “Tapi kalau dokter dan obat kan ada sekolahnya, Mas?”

“Berarti ini urusannya antara sekolah dengan gak sekolah? Apa pelawak mesti sekolah dagelan agar bisa menghibur orang? Apakah ada sekolah agar ahli nyanthet orang? Kalau gitu mestinya aku jadi filsuf dong, gak jadi penulis. Dan kamu gak jadi apa-apa wong lulusan SMA, itu pun ijazahmu ilang. Padahal tulisanmu bagus, dan kamu punya ketrampilan lain.”

Dia tertawa. Tentu saja sambil mikir.

“Pawang Hujan tentu ada ilmunya. Kalau nggak ya gak mungkin ada regenerasi. Mestinya sudah punah. Hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara melakoni ilmu itu…”

“Soal siriknya, bagaimana?”

“Nah, itu. Aku tanya tapi kamu harus menjawab jujur ya…”

Dia mengangguk.

“Kamu kalau sakit terus minum obat atau pergi berobat ke dokter, kamu percaya dengan obat dan dokter atau percaya yang menyembuhkan Tuhan?”

Dia terlihat ragu.

“Percaya Tuhan yang menyembuhkan.”

“Kalau aku seringnya nggak begitu. Aku sering percaya pada obat dan dokternya. Padahal kalau berkaca pada sikap tauhid, hal itu keliru. Mestinya Tuhan yang menyembuhkan, hanya saja lewat obat dan dokter. Obat itu terdiri dari zat-zat yang diciptakan Tuhan, manusia yang meramunya juga diciptakan oleh Tuhan. Dokter diberi akal oleh Tuhan. Diberi kemudahan mencari ilmu juga oleh Tuhan, dll.”

“Eh, aku juga begitu ding, Mas.”

“Berarti sebetulnya kita sudah biasa sirik kecil-kecilan, kan?”

“Iya.”

“Jadi, kalau misal kamu jadi menggunakan jasa pawang hujan, sebaiknya pikiranmu disetel dari sekarang: bahwa Tuhan yang bisa menghentikan dan mengatur hujan, hanya saja lewat mekanisme tertentu yang dipelajari oleh pawang hujan. Dan pawang hujan juga ciptaan Tuhan.”

Kini, laki-laki itu manggut-manggut lebih mantap.

“Terus jadi mau pakai jasa pawang hujan atau tidak?”

“Jadi, Mas.”

“Lain kali jangan tanya beginian kepadaku ya? Tanyakan ke para kiai. Soal beginian, aku gak begitu ngerti.”

Ketika hajatannya tiba. Mendung tebal. Di sekitar tempat itu hujan lebat. Hanya di sekitar tempat itu, hujan turun rintik-rintik. Itu pun sesekali.

Saya tidak tahu, dia jadi pakai jasa pawang hujan atau tidak. Yang jelas, patut disyukuri, semua acara lancar…


Puthut EA





Read More

Nak, Kita akan Menjadi Bangsa Asing di Negeri Sendiri



Sang ibu memeluk puteranya dengan rasa sedih tak terhingga

Katanya: nak kita akan menjadi bangsa asing di negeri kita sendiri tercinta

Apapun sudah diganti yang berasal bukan dari budaya kita

Tahu tempe misalnya sudah akan lenyap karena tak murah lagi dan mahal harganya

Wayang katanya juga haram dan kita tak boleh melihatnya

Lalu apa yang boleh dipertahankan oleh kita?

Sang putera hanya memandang ibunda, dengan kekhawatiran yang sama


~ Dr. Nugroho SBM  MSi ~

Read More

7 Filosofi Hidup dari Jepang, agar Hidup Lebih Bermakna



Berbicara tentang negara jepang tidak ada habisnya. Karena Jepang merupakan negara dengan kemajuan teknologi paling berkembang pesat di dunia. Sudah banyak karya-karya teknologi dan mesin-mesin canggih yang tercipta dan digunakan dalam keseharian masyarakatnya.

Tak heran banyak orang yang ingin pergi ke negara sakura, mulai dari hanya sekadar berwisata, melanjutkan Study, menetap atau tinggal dan bekerja di jepang.

Selain karya teknologinya, orang-orang Jepang juga memiliki budaya keseharian yang sampai sekarang masih dipegang erat dan dilakukan setiap harinya. Budaya tingkah laku tersebut dapat dikatakan juga sebagai sebuah filosofi hidup yang sangat baik untuk diterapkan.

Berikut ini adalah beberapa Filosofi Hidup yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita:

1. Ikigai yaitu Alasan untuk Hidup

Konsep "ikigai" memiliki definisi dan mempraktikkan tujuan hidup seseorang. Sederhananya adalah, pasti ada alasan mengapa kita bangun di pagi hari?

Filosofi Ikagi ini harus muncul dari keinginan diri sendiri dan menjadi sesuatu yang disukai dan kuasai.

Orang Jepang percaya bahwa setiap orang memiliki Ikigai mereka sendiri dan menganggapnya sebagai perjalanan penting untuk membawa kepuasan dan makna hidup.

Sehingga cobalah mencari tujuan hidup kita. Karena dengan adanya tujuan hidup kita membuat hari-hari kita bermakna dan terarah. Layaknya kompas yang memberi petunjuk di saat kita tersesat dalam kehidupan yang fana ini.

2. Oubaitori yaitu Jangan Membandingkan Diri

Filosofi "oubaitori" memiliki arti untuk jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bersyukurlah apa yang kamu miliki dan yang telah kamu capai.

Filosofi ini tertuju dari empat karakter kanji, yaitu buah ceri, plum, persik, dan aprikot yang melambangkan perbedaan cara berkembangnya setiap pohon. Sehingga ini memberikan kita pelajaran makna kehidupan bahwa setiap individu memiliki keistimewaan masing masing yang mungkin tidak dimiliki individu lain.

3. Kaizen yaitu  Terus-menerus Berkembang

Kaizen berarti perbaikan terus-menerus atau perubahan menjadi lebih baik dan merupakan filosofi pribadi dan bisnis-karir yang berusaha untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas di semua tingkat hidup.

Dengan memiliki mindset ini, maka kita termotivasi terus menerus untuk melakukan perbaikan terus-menerus secara bertahap dan membuat perubahan kecil menjadi lebih baik dan menghargai prosesnya.

4. Wabi Sabi yaitu menerima ketidaksempurnaan

Filosofi wabi sabi adalah filosofi hidup orang Jepang dengan cara menerima ketidaksempurnaan dan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Wabi Sabi mendorong untuk lebih berfokus pada keberkahan yang dimiliki dibanding berharap kepada hal yang tidak kita terima.

Selain itu, Wabi Sabi sangat cocok diterapkan pada masyarakat modern saat ini yang terus menerus mengejar kesempurnaan. Bisa kita lihat, manusia mengejar berbagai aspek yang pada akhirnya menyebabkan depresi, cemas, dan stres.

Filosofi Jepang ini bisa juga digunakan untuk mengurangi gaya hidup yang sangat konsumtif dan selalu mengikuti tren yang tidak ada habisnya.

5. Kintsugi yaitu Seni Memperbaiki pecahan keramik

Seni kintsugi memiliki arti perjalanan emas dan kintsukuroi, mengacu pada perbaikan emas. Filosofi ini sering dikaitkan dengan perbaikan tembikar yang rusak dengan vernis emas atau perak.

Sehingga Kintsugi memberikan pelajaran hidup bahwa perjalanan emas, membantu dan mengubah perspektif kita merangkul kekurangan kita sendiri sebagai hiasan yang membuat diri lebih ekstetik dan berharga.

6. Gaman yaitu Menjaga Kehormatan, Meski Dalam Tekanan

Filosofi Gaman memiliki arti bahwa kesabaran, ketekunan, dan toleransi. Bila kita menggunakan pola pikir filosofi gaman, menjadikan kita akan bertahan dalam situasi sulit dengan pengendalian diri dan martabat.

Sementara itu, dalam ajaran Buddhis Zen, Gaman adalah strategi untuk tetap ulet dan sabar selama masa-masa sulit dan merupakan ciri kematangan emosi.

7. Mono no aware yaitu  Empati

Secara harfiah, mono no aware berarti "kesedihan," tetapi juga diterjemahkan sebagai memiliki empati terhadap hal-hal dan ephemera. Dengan memiiliki filosofi ini, membuat kita memiliki sikap empati terhadap masalah-masalah di sekitar lingkungan kita.

Dengan begitu menjadikan diri ini bermakna karena memberi solusi atas masalah-masalah tersebut. Juga memiliki kesadaran untuk terus berempati dan bermanfaat untuk sesama.

Juwinda Ningrum


Read More

Jangan Rusak Budaya dengan Politisasi Agama


Belakangan ini di dunia maya sedang ramai memperbincangkan ceramah Khalid Basalamah. Menurutnya wayang haram dan lebih baik dimusnahkan. 

Begitu mudahnya seseorang tokoh agama atau orang mengklaim dirinya paham agama, menyatakan produk budaya haram atau halal. 

Apakah keris lalu dibilang musrik? Mari kita belajar sejarah. Sudahkah tepat kan pernyataan tersebut? Apa salahnya produk budaya tersebut sampai harus dimusnahkan? Apakah masyarakat saat ini memberhalakan wayang?

Semakin kesini, terkadang semakin membuat kita tidak habis pikir dengan maraknya politisasi agama di tengah masyarakat. Kenapa selalu tradisi atau kearifan lokal yang dipersoalkan? Beberapa waktu lalu sesaji yang dipersoalkan. 

Seorang pemuda viral karena menendang sesaji di puncang gunung Semeru. Karena sesaji itulah yang membuat Allah murka. Dari mana dia bisa tahu? Jika terjadi letusan gunung, apakah hal tersebut bagian dari murkanya Allah? Lalu, sesaji di sekitar gunung Semeru, bukahkah hal yang wajar karena dilakukan oleh masyarakat Tengger, yang beragama Hindu?

Agama memang penting. Tapi juga harus diposisikan secara benar. Jika wayang diharamkan sampai harus dimusnahkan lantaran suka atau tidak suka, apakah masuk akal? Haramnya sesuatu hal itu harus ada yang mendasarinya. 

Jika wayang sudah tidak dibenarkan, kenapa Wali Songo justru menggunakannya untuk media dakwah? Dan karena media wayang inilah, masyarakat ketika itu bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah.

Kenapa politisasi agama ini begitu marak? Memang tidak bisa dilepaskan dengan maraknya propaganda radikalisme di dunia maya. Kelompok ini terus melontarkan provokasi-provokasi dengan berbagai cara. Bibit kebencian terus dimunculkan. Tidak hanya ditujukan kepada kelompok yang dianggap berseberangan, kelompok yang berbeda pendapat, beda keyakinan, atau yang lain seringkali juga menjadi korban provokasi kelompok ini. Bahkan tak jarang mereka juga melontarkan ajakan untuk melakukan tindakan intoleransi di media sosial.

Hal semacam ini harus dimaknai sebagai ancaman. Bibit radikalisme terus berkembang dengan berbagai macam bentuk. Apa saja dianggap salah, dianggap sesat, bahkan kafir. Bahkan wayang yang menjadi produk budaya pun, juga ikut-ikut disalahkan. Nah, sebagai generasi yang cerdas, kita harus bisa memilah milah mana informasi yang benar, mana ayat yang sesuai dengan konteksnya, agar kita tidak mudah terprovokasi.

Dalam ceramahnya, Basalamah menyebut bahwa slam perlu dijadikan tradisi dan budaya, bukan mengislamkan budaya. Pertanyaannya kemudian, bukankah Islam adalah nilai yang akan selalu relevan dan sesuai dengan budaya dan tradisi apapun, selama dalam tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan menimbulkan kemudharatan? Jadi, dalam memahami suatu hal jangan terbalik-balik. Jika budaya dipersoalkan, bukankah pakaian ini bagian dari produk budaya? Lalu, kenapa pakaian tidak dipersoalkan?

Sekali lagi, mari menjadi pribadi yang cerdas. Sebelumnya, menyanyikan Indonesia dianggap haram. Apa lagi ini? Jika tidak suka dengan pemerintah, tidak usah mencari kesalahan. Tidak usah membangun kebencian ini itu, sampai lagu kebangsaan diharamkan. Hormat bendera haram. Politisasi agama hanya akan menyuburkan kebencian dalam diri, dan menularkan kebencian tersebut  ke masyarakat. Apakah sikap ini dianjurkan dalam Islam? Tentu tidak. Karena Islam agama yang mengedepankan nilai-nilai kebaikan untuk semua orang. Salam introspeksi dan toleransi.

Ahmad Ricky Perdana


Read More

Jangan Berjanji Kalau untuk Diingkari


Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari yang namanya perjanjian. Perjanjian itu dibuat dengan orang lain maupun hanya dengan diri sendiri. Perjanjian itu juga entah berkaitan dengan hal yang sangat penting dalam hidup kita maupun sesuatu yang biasa saja. Dalam tulisan singkat ini, saya mengulas mengenai mengapa orang sangat mudah mengingkari janji.

Seringkali ada orang yang setiap kali berjanji selalu mengingkarinya. Ia tidak pernah konsisten. Tentu saja hal ini menjengkelkan kita apabila orang tersebut merupakan kolega kerja, teman, saudara atau orang di sekitar kita. Atau juga kita adalah orang berjenis seperti ini. Kita berjanji baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri dan tidak menepatinya. Kita bahkan frustrasi dengan karakter kita ini.

Supaya pembahasan tidak luas, saya menyempitkan lagi tulisan ini dan memberi batasan pada alasan kenapa kita sering kali mengingkari janji yang kita buat dengan diri kita sendiri. 

Misalnya kita berjanji untuk tekun belajar atau berjanji untuk tidak malas-malasan lagi. Akan tetapi setiap kali kita berjanji kita selalu mengingkarinya. Menurut hemat saya, ada beberapa penyebab yang membuat kita sering kali mengingkari janji.

Pertama, kita belum sungguh-sungguh berjanji. Artinya saat kita berjanji, kita belum sepenuhnya sadar saat mengucapkan  janji itu. Sambil lalu saja. Hanya kata-kata belaka. Saat berjanji, kita tidak memiliki niat yang tulus untuk menepati janji itu. Kita tidak benar-benar serius saat mengucapkan janji itu. Saya sering kali menjumpai orang seperti ini. 

Bahkan saya pun sering berbuat seperti ini. Karakter dari orang seperti ini, adalah orang yang kurang konsisten. Ia adalah pribadi yang sering mengucapkan janji tanpa menepatinya. 

Sangat berbeda dengan orang yang sungguh-sungguh berjanji. Mereka sekali berjanji langsung ditepati. Sehingga dalam hidupnya, tidak banyak janji kosong yang dibuat.

Kedua, penyebab kita mengingkari janji yang kita buat adalah janji tersebut terlampau berat untuk ditepati. Artinya kita memaksa diri kita terhadap sesuatu yang sebenarnya sulit kita jangkau. Dan mungkin dalam hati, kita sudah merasakan bahwa hal itu sangat sulit untuk ditepati tetapi kita tetap memaksa diri untuk berjanji. 

Selain itu, kita juga sebenarnya masih ingin tinggal dalam suasana sebelum kita berjanji. Maksud saya, misalnya kita berjanji untuk berubah; untuk tidak bermain game lagi. 

Akan tetapi, sebenarnya kita masih memiliki keinginan untuk bermain game. Maka tidak salah dalam perjalanan waktu, kita tidak bertahan dengan janji yang kita buat.

Solusi untuk permasalahan di atas sebenarnya sangat sederhana yakni jangan berbuat janji. Artinya kalau kita belum sungguh-sungguh memiliki niat untuk menepati janji tersebut maka jangan berjanji. Intinya di sini adalah niat. 

Kumpulkan dahulu niat setelah itu baru berjanji. Kemudian, kita juga sebaiknya jangan terlalu berjanji terhadap hal-hal yang sebenarnya sangat berat untuk ditepati. 

Apabila kita terus berjanji dan tidak pernah menepatinya maka bagi kita, sebuah perjanjian entah itu dengan orang lain atau dengan diri kita sendiri tidak bermakna lagi. Janji kehilangan maknanya. Maka mari kita membuat hidup kita bermakna salah satunya dengan menepati janji-janji kecil kehidupan kita.
Read More